Mahasiswa Biologi Meneliti Potensi Daun Bandotan (Ageratum conyzoides) untuk Terapi Ulkus Diabetikum

Salah satu permasalahan kesehatan yang mendunia saat ini adalah penyakit diabetes melitus yang memiliki peran penyebab kenaikan angka kematian di dunia. Kejadian diabetes melitus kronis dapat menyebabkan komplikasi yang berujung pada neuropati dan iskemia yang kemudian bermanifestasi pada ulkus diabetik. Penderita ulkus kaki diabetes di Indonesia saat ini sekitar 15% dengan angka amputasi mencapai 30% dan angka kematian 32%. Permasalahan ini dapat mempengaruhi kualitas hidup serta kondisi ekonomi bagi masyarakat penderita. Penggunaan obat sintetis untuk terapi ulkus diabetik masih belum bisa sesuai dengan harapan. Selain efek yang ditimbulkan, biaya yang diperlukan juga mahal. Penderita ulkus diabetik saat ini lebih cenderung memilih alternatif obat dengan biaya yang terjangkau dan dapat memberikan efek terapeutik.

Kondisi kulit luka dapat menyebabkan terjadinya infeksi oleh bakteri, salah satunya adalah Staphylococcus aureus. Bakteri ini dikenal sebagai mikroorganisme patogen yang dihubungkan dengan berbagai sindrom klinis.

Berawal dari kondisi tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) dari Jurusan Biologi berupaya untuk mencari alternatif obat dengan biaya terjangkau dan dapat memberikan efek terapeutik. Tim yang terdiri atas Erra Ericha Safani (Biologi 2015), Wanodya Ayu Chandradevi Kunharjito (Biologi 2015), dan Alfiyan Lestari (Pendidikan Biologi Unggulan 2017) berinisiatif untuk membuat spray dari daun bandotan (Ageratum conyzoides) untuk obat terapeutik ulkus diabetikum.

“Daun Bandotan ini melimpah dan belum banyak dimanfaatkan sebagai obat sehingga kami berinisiatif untuk memanfaatkan daun ini, dengan harapan dapat mempermudah penderita ulkus diabetikum untuk melakukan terapi dengan biaya yang terjangkau.” papar Erra Ericha Safani, ketua Tim. Hasil penelitian yang dibimbing oleh Erlix Rakhmad Purnama, S.Si., M.Si. ini menunjukkan bahwa spray daun bandotan (Ageratum conyzoides) ini mampu memperbaiki kondisi kulit ulkus diabetik yang terinfeksi Staphylococcus aureus dan mempercepat penyembuhan ditinjau dari pengukuran panjang luka.

Related posts



Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »