Sebagai sebuah kompetisi, National University Debating Championship (NUDC) tidak hanya berfungsi sebagai ajang untuk memilih siapa yang lebih hebat, melainkan juga berkontribusi membentuk pribadi yang dapat menuangkan ide secara sistematis dan logis. Manfaat ini tercermin dari para peserta yang mampu “menjahit” informasi yang tersebar (scattered information) menjadi sebuah ilmu yang “bergizi”. Ya, FMIPA berhasil mendudukkan NUDC pada posisi tersebut.

Melalui sebuah mosi “THBT sensitive social and political topics should be discussed in school” mahasiswa peserta seleksi NUDC FMIPA telah mencoba memaparkan fungsi sekolah seperti yang diutarakan oleh John Dewey sebagai “Classroom as a Laboratory for Democracy”, di mana peserta didik seharusnya tidak merasa tabu mendiskusikan isu-isu yang sensitif. Tentu saja, tujuan akhirnya ialah membentuk generasi penerus yang tanggap dan peduli terhadap tegak dan utuhnya NKRI.

Menariknya, NUDC 2020 tidak dilaksanakan melalui mekanisme debat seperti NUDC 2019. Pandemi Covid-19 memaksa peserta mengirimkan video berdurasi 6-7 menit sebagai media debat. Selain itu, semua peserta berperan sebagai first-speaker government; membuat tantangan menjadi lebih sulit, yakni peserta harus membentuk suasana debat secara mandiri. Hal itu diakui oleh tiga dewan juri yang terdiri dari Sueb, S.Pd., M.Pd.; ClarashintaCanggih, S.E., CIFP, dan Raga Drian Pratama, S.Pd., M.Pd. Menurut mereka, peserta yang sebelumnya pernah mengikuti debat NUDC 2019 menjadi lebih berpengalaman membangkitkan suasana debat dibandingkan peserta yang baru, terlihat dari intonasi suara, gesture, kecepatan berbicara, dan point of view. Namun, yang terpenting ialah penilaian tidak hanya didasarkan atas kompetensi tersebut, melainkan sajian ulasan pemikiran yang analitis, logis, dan sistematis.

Atas dasarpenilaiantersebut, seleksi NUDC FMIPA 2020 yang diselenggarakan pada hari Rabu, 15 Juli 2020, secara daring berhasil menjaring 2 pemenang yang berhak mewakili FMIPA untuk kompetisi NUDC tingkat universitas. Pemenang pertama diraih oleh Varradiah Choirun Nisa’ dan Vena Salsabila yang sama-sama berasal dari Jurusan Kimia. Selamat untuk kalian berdua. Hmm, menjadi menarik dan perlu di contoh bagaimana Jurusan Kimia mampu menghadirkan peserta debat yang berkualitas. Peserta yang lain pun sebenarnya tidak kalah unik pemikirannya, hanya saja tingkat kematangan dalam menyusun proses berpikir yang sistematis, plus dengan nuansa debat menjadi pembedanya.

Tidak perlu khawatir, pengalaman ini tentunya menjadipembelajaran yang sangat berharga bagi peserta yang belum terpilih untuk mengikuti NUDC di tahun selanjutnya. Bagi pemenang, jalan kalian masih panjang karena harusmenyiapkan kompetisi di tingkat universitas. Dan tentu saja, tantangannya semakin terjal. Dengan semangat FMIPA yang Unggul dan doa dari seluruh warga FMIPA, sivitas FMIPA yakin para pemenang akan berhasil meraih kemenangan di tingkat universitas dan menjadi wakil Unesa di tingkat regional. Sekali lagi selamat, doa sudah di tangan, tinggal usaha yang perlu di maksimalkan. Aamiin.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »