Oleh : Abdul Haris Rosyidi.

Setiap kali memasuki kelas, mengobservasi guru atau calon guru yang membelajarkan fungsi, ada saja hal yang menarik perhatian saya. Mulai dari kecerobohan guru dalam menggambar grafik fungsi, kelengkapan pertanyaan yang diajukan guru, hingga cara siswa merespon pertanyaan guru. Seorang praktikan, mahasiswa PPG, sedang berdiri di depan siswa, mengajar mengambar grafik fungsi. Dengan tanya jawab, guru yang mahasiswa itu mulai membimbing anak didiknya menggambar grafik fungsi y=2x-1 dengan domain {1,2,3,4,5}. Sebagai langkah awal, ia membuat tabel berikut.

x 1 2 3 4 5
y 1 3
(x,y) (1,1) (2,3)

\
Kemudian, ia meminta salah satu siswa melengkapi tabel di atas, satu siswa lainnya diminta meletakkan titik-titik tersebut pada koordinat kartesius. Dan hasilnya seperti pada gambar (a) berikut.

Saya menduga guru itu akan mengajukan pertanyaan pada siswa lainnya untuk mempertegas bahwa gambar yang dibuat sudah benar adanya. Tapi, dugaan saya keliru. Guru itu malah menghubungkan titik-titik itu dengan sebuah garis, seperti pada gambar (b). Dan sampai pelajaran ditutup, saya tidak mendengar argumen mengapa guru itu menggambar garis itu

VKeluar ruang kelas, saya hampiri guru tersebut. Saya bertanya, “domain fungsi y=2x-1 tadi, apa?” Ia diam sesaat. Dan dalam diam, segera saya susul dengan pertanyaan ke dua, “jadi grafik yang benar, yang digambar siswamu atau gambarmu?” Ia diam lebih dalam, dan saya bergegas meninggalkannya.

Lain waktu, saya kembali berkesempatan masuk ke salah satu kelas yang sedang belajar fungsi. Saat itu, sang guru bertanya, “apa itu fungsi?” Meski pertanyaan itu tak lengkap, sebagian besar siswa mengarah pada jawaban bahwa fungsi merupakan relasi yang menghubungkan setiap anggota himpunan A dengan tepat satu anggota himpunan B. Sesaat itu, saya berbisik sendiri, “kekuranghati-hatian guru dalam bertanya, bertemu siswa yang hafal namun tanpa pemahaman definisi, kloplah sudah.”

Sepengetahuan saya, fungsi itu jenis relasi dua himpunan. Jadi tak lengkap jika kita bertanya, “apa itu fungsi?” Tapi anehnya, pikiran positif saya bilang, “antara guru dan siswa di kelas tadi telah terjalin komunikasi batin, sehingga meski pertanyaannya tak lengkap jawaban siswa telah mengetahui bahwa yang ditanyakan adalah fungsi dari himpunan A ke himpunan B.”

Pengalaman terkini, saya kembali masuk ke kelas yang sedang belajar fungsi terjadi minggu lalu. Saya bersama dua teman peserta workshop sedang praktik ajar nyata di sekolah. Saya bertindak sebagai observer, dan dua teman tersebut berkolaborasi menjadi guru dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang sudah dibuat sehari sebelumnya.

Kondisi siswa yang telah menerima materi fungsi dari guru kelasnya, menjadi agak gaduh dan kurang perhatian terhadap pembelajaran. Tapi itu tak jadi masalah buat saya. Yang menarik perhatian saya adalah saat guru menunjukkan dua diagram panah berikut

Kemudian saya bertanya apakah, “relasi-relasi ini merupakan fungsi?” Sebagian besar siswa menjawab, “diagram panah pertama, bukan fungsi, karena ada yang jomblo, yang kedua, juga bukan, karena ada yang selingkuh.” Mendengar jawaban ini, salah satu guru bertanya, “yang mana yang jomblo dan siapa yang selingkuh?” Salah satu siswa menjawab, “yang jomblo c, dan yang selingkuh p.” Dan semuanya berakhir sampai di sini. Tak ada penjelasan tambahan atau klarifikasi.

Saya berpikir sejenak, dan bertanya pada diri sendiri, “sejak kapan matematika mengenal jomblo dan selingkuh?” Disusul kemudian, “apa gurunya kemarin mengajarinya seperti itu?” Apapun jawaban terhadap dua pertanyaan di atas, saya berkesimpulan bahwa konsep fungsi lebih mudah diingat bila guru menggunakan idiom tidak jomblo dan tak selingkuh sebagai jembatan keledai-nya. Namun, perlu ditambahkan klarifikasi guru terkait makna matematis kedua idiom tersebut bila berhadapan dengan siswa yang menjawab demikian. Jika tidak, tujuan utama kegiatan, yaitu melatih siswa menyusun argumen pembenar atas pilihannya berdasar definisi fungsi, takkan tercapai.

Selain idiom tidak jomblo dan tak selingkuh, adakah yang lebih ampuh untuk membantu siswa agar tak gampang melupakan konsep pemetaan?

Fungsi itu Tidak Jomblo juga Tak Selingkuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *