Kuliah Umum Prof. Bill Atweh

IMG-20151204-WA0013

Jumat, 04 Desember 2015, Prof. Dr. Bill Atweh yang merupakan Adjunct Professor dari Philippine Normal University dan University of South Africa (Unisa) memberikan kuliah umum di Program Studi S1 Pendidikan IPA, FMIPA, Unesa. Berlangsung penuh antusias dari mahasiswa, kuliah umum yang beliau sampaikan mengenai Pedagocical and Content Knowledge dalam pengajaran Matematika dan IPA yang mengarah pada pembelajaran jangka panjang bagi calon ataupun guru IPA.

Ada satu tujuan umum yang ingin dicapai dengan kuliah umum tersebut, yaitu perubahan cara pandang guru terhadap cara mengajar mereka yang dipengaruhi oleh dua hal pokok, yaitu content knowledge dan pedagocical knowledge. Keduanya wajib dikuasai oleh guru IPA yang kompeten. Content knowledge berhubungan dengan seberapa jauh materi tersebut dikuasai dengan baik. Masalah miskonsepsi merupakan masalah pelik yang berkaitan dengan konteks tersebut. Guru seringkali harus membaca dan mempraktikkan hal-hal yang dibaca untuk memperkuat dan memperluas khazanah pemahamannya terhadap materi yang akan diajarkan terhadap siswanya. Kegiatan ini harus dilakukan secara terus-menerus sehingga kajian materinya selalu dapat terbarukan oleh kemajuan ipteks yang pesat.

Berbeda halnya dengan content knowledge, pedagocical knowledge berfokus pada nilai-nilai yang harus ditanamkan pada cara-cara guru IPA mengajarkan materinya. Empat hal pokok terkandung sebagai inti sari dari konteks tersebut, antara lain kualitas intelektual (intellectual quality), keterhubungan (connectedness), suasana kelas yang mendukung (supportive classroom environment), dan pengenalan terhadap perbedaan (recognition of difference). Masing-masing intisari tersebut dapat diturunkan lagi menjadi beberapa pokok kajian, seperti halnya keterhubungan. Intisari ini mengandung tiga hal, yaitu

Masalah nyata yang terjadi di sekolah selalu terkait dengan empat hal tersebut. Sebagai contoh, guru biasanya tidak melatihkan siswanya agar memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Pembelajaran yang dilakukan guru utamanya difokuskan agar siswa dapat mengingat materi dengan baik (rote learning) sehingga mereka dapat lulus pada ujian-ujian sekolah. Masalah lainnya ialah integrasi antara materi Fisika, Kimia, dan Biologi yang belum maksimal. Di dalam masalah keterhubungan, guru seharusnya dapat melihat esensi inti dari ketiga ilmu tersebut ketika meninjau suatu materi pembelajaran. Terakhir, suasana kelas yang mendukung seringkali terabaikan. Guru hanya menggunakan pengarajaran didaktis yang monoton sehingga tidak mampu memaksimalkan dukungan sosial (potensial support), keterlibatan secara akademik (academic engagement), pengaturan diri (self-regulation), kriteria kualitas penampilan (quality performance criteria), dan pengarahan kepada siswa (student direction) terhadap hal yang mereka harus lakukan dalam pembelajaran.

Simpulannya, Prof. Bill Atweh menyampaikan bahwa dengan dua kekuatan secara konten materi dan pedadogik, guru IPA mampu menjadi guru pelopor pembelajaran jangka panjang, tidak hanya bagi dirinya sendiri, melainkan juga untuk siswanya. Konten materi yang dikuasai dengan baik, tetapi tidak disampaikan dengan pedagogic yang baik pula, mustahil hasinya akan optimal dan sebaliknya.

Terkait dengan kuliah umum tersebut, beberapa mahasiswa sangat berharap kuliah tersebut dapat diadakan kembali. Selain menambah wawasan keilmuan, mahasiswa dapat berlatih menyampaikan pendapatnya dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Leave a Comment