Tim PKM-RE FMIPA Unesa Teliti Mengenai Pembuatan Sensor Pengukur Hemoglobin dari Dolomit Bangkalan

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh tim mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Negeri Surabaya melalui gelaran Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). Sebagai salah satu tim yang lolos pendanaan, tim ini membawa misi untuk menemukan potensi dolomit Bangkalan menjadi sensor yang dapat mengukur kadar hemoglobin.

Pengembangan inovasi tersebut diprakarsai oleh kelompok yang terdiri atas lima mahasiswa, yaitu: Devi Ragita Putri Pratiwi (S1 Fisika), Arina Wahdania (S1 Fisika), Iqbal Ainur Rizki (S1 Pendidikan Fisika), Arfinda Mulya Dewi (S1 Kimia), dan Veldiana Oktaviana Putri (S1 Fisika). Mereka juga dibimbing oleh Lydia Rohmawati, M.Si.

“Riset ini dilatar belakangi oleh tingginya tingkat prevalensi anemia di Indonesia, dimana anemia itu sendiri memiliki banyak sekali dampak negatif, seperti membuat badan menjadi lemas, imunitas tubuh menurun, dan mudah terserang penyakit. Selain itu, kita juga melihat potensi dolomit yang ada di Kabupaten Bangkalan sangatlah besar, dimana dolomit itu sendiri jika disintesis bisa menghasilkan Magnesium Oksida yang dapat dimanfaatkan sebagai sensor untuk mengukur kadar hemoglobin” Ungkap Ketua PKM-RE, Devi.

Proses Riset yang Dilakukan oleh Tim PKM-RE FMIPA Unesa

Ia melanjutkan, proses riset yang dilakukan tidaklah mudah. Beberapa tantangan yang dihadapi oleh tim PKM-RE adalah ketidakpastian mengenai sintesis reagen, proses pembuatan serat yang sangat lama, hingga bahan-bahan yang sangat sensitif dan perlu perlakuan yang tepat. Selain itu, tema  penelitian ini adalah yang pertama bagi mereka sehingga harus belajar dari 0. Tetapi, bagi Devi dan tim, mereka tidak akan menyerah begitu saja. “Kami tidak akan menyerah dan terus menjawab tantangan tersebut,” tutur Devi.

Saat ini proses riset sedang berada pada tahap uji karakteristik bahan, yang meliputi X-Ray Diffraction, Fourier Transform Infra Red, Scanning Electron Microscope, UV-Vis Spectroscopy, dan Voltametri Siklik. Paten mengenai riset ini juga sedang dalam proses pengajuan ke LPPM Unesa.

“Riset ini penting untuk dilakukan mengingat tingginya prevalensi anemia di Indonesia. Riset ini juga dapat mengeksplor potensi-potensi kekayaan sumber daya alam Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini,” pungkas Devi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *