Belajar Fisika dari Wayang Kulit: Refleksi atas Pagelaran “Abimanyu Pinayungan” di Hari Wayang Dunia 2025

Views: 62

Surabaya, 6 November 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Wayang Dunia 2025, Program Studi Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan sebuah pagelaran budaya yang sarat makna: Wayang Kulit dengan lakon “Abimanyu Pinayungan.”
Kegiatan yang digelar pada Rabu, 5 November 2025 bertempat di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Surabaya, ini menampilkan Ki Wisnu Jati Pamungkas sebagai dalang, serta menghadirkan Jo Klithik dan Jo Kluthuk sebagai guest star.

Pagelaran yang diselenggarakan oleh Pusat Unggulan Inovasi Seni dan Budaya Majapahitan (PUISBM) Unesa ini menjadi wujud nyata pelestarian budaya sekaligus ruang kontemplasi bagi sivitas akademika Unesa untuk memaknai kearifan lokal dalam perspektif ilmu pengetahuan modern. Tidak hanya menghadirkan seni pertunjukan yang memukau, acara ini juga membuka ruang refleksi lintas disiplin — termasuk bagi para akademisi dan mahasiswa sains untuk membaca “pesan ilmiah” di balik kisah pewayangan. (Niswati)

Wayang sebagai Cermin Alam dan Ilmu

Bagi sebagian orang, wayang mungkin sekadar pertunjukan tradisional. Namun bagi peneliti dan pendidik sains, setiap elemen di balik layar kelir menyimpan prinsip-prinsip Fisika yang hidup dan nyata.
Bayangan yang menari di layar, cahaya yang memancar dari blencong, hingga harmoni suara gamelan dan dalang — semuanya merupakan ekspresi estetika yang sekaligus mengandung hukum-hukum alam.

Wayang kulit pada dasarnya adalah teater cahaya dan gerak. Layar putih (kelir) menjadi bidang pantul, sedangkan blencong, sumber cahaya minyak tradisional, bertindak sebagai sumber cahaya titik. Bayangan yang terbentuk di layar adalah hasil dari interaksi antara intensitas cahaya, jarak sumber terhadap objek, dan sudut datang cahaya — prinsip-prinsip dasar optika geometri yang juga dijelaskan dalam hukum Fisika modern.


Fisika di Balik Pagelaran Wayang

Jika ditelusuri lebih dalam, hampir seluruh elemen dalam pertunjukan wayang dapat dijelaskan secara ilmiah:

  • Optika dan Bayangan
    Bayangan tokoh wayang yang terlihat di layar merupakan hasil dari pembiasan dan penyerapan cahaya. Setiap perubahan jarak antara blencong dan wayang menghasilkan perubahan ukuran bayangan — contoh nyata penerapan hukum pembentukan bayangan pada cermin dan lensa.
  • Akustik dan Resonansi
    Suara gamelan, suluk dalang, dan tepukan sinden menciptakan harmoni akustik yang memanfaatkan gelombang bunyi, frekuensi, dan resonansi ruang. Ruang pertunjukan yang terbuka atau tertutup akan memengaruhi intensitas dan kejelasan suara — sama seperti ruang konser yang dirancang berdasarkan prinsip fisika akustik.
  • Gerak dan Mekanika
    Pergerakan wayang oleh tangan dalang mengikuti pola rotasi dan translasi. Dalang menggunakan tumpuan pada bagian tengah wayang untuk mengatur momen gaya dan keseimbangan, sebagaimana prinsip mekanika klasik Newton bekerja dalam keseharian.
  • Energi dan Transformasi
    Energi kimia dari minyak dalam blencong berubah menjadi energi panas dan cahaya, sementara energi mekanik tangan dalang diubah menjadi pengalaman visual bagi penonton. Semua ini memperlihatkan konversi energi antar bentuk, konsep fundamental dalam Fisika yang diterapkan secara alami dalam tradisi.

Filosofi “Abimanyu Pinayungan”: Antara Energi dan Keberanian

Lakon Abimanyu Pinayungan menceritakan perjuangan ksatria muda Abimanyu yang dengan gagah berani menembus medan perang demi kebenaran. Dalam kacamata Fisika, Abimanyu bisa dipandang sebagai simbol energi potensial — kekuatan yang tersimpan dalam diri manusia untuk melakukan perubahan.
Energi itu akan menjadi nyata hanya ketika ada usaha, gaya, dan arah yang tepat. Seperti dalam hukum kerja (work-energy theorem), keberanian dan tekad menjadi gaya penggerak yang mengubah potensi menjadi aksi.

Di sisi lain, kisah ini juga menyiratkan konsep keseimbangan energi alam, di mana setiap tindakan memiliki konsekuensi. Sama halnya dengan hukum aksi–reaksi Newton, setiap perbuatan manusia terhadap alam akan memberikan dampak yang kembali padanya. Wayang, dengan segala simbolismenya, menjadi medium untuk mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.

Sains, Budaya, dan Kemanusiaan

Pagelaran wayang tidak hanya memelihara tradisi, tetapi juga meneguhkan gagasan bahwa ilmu dan budaya dapat berjalan seiring. Fisika menjelaskan bagaimana dunia bekerja, sedangkan budaya menjelaskan mengapa manusia berperilaku dan mencari makna di dalamnya.
Ketika Fisika bertemu Wayang, keduanya mengajarkan hal yang sama: tentang keteraturan, keseimbangan, dan hubungan antara sebab dan akibat.

Kegiatan seperti Hari Wayang Dunia 2025 menjadi momentum penting bagi civitas akademika Unesa — termasuk FMIPA — untuk menumbuhkan scientific literacy yang berakar pada budaya lokal. Dari panggung wayang, kita belajar bahwa kebenaran ilmiah dan kearifan budaya bukanlah dua kutub yang terpisah, melainkan dua sisi dari satu realitas yang sama: cara manusia memahami ciptaan Tuhan.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)

Sumber foto: Dokumentasi Pagelaran Wayang Kulit “Abimanyu Pinayungan” di Kelurahan Lidah Wetan pada 5 November 2025 (Humas Unesa)