Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina 29 November 2025: Dari Kampus dan Ruang Ilmu Pengetahuan, Kita Menjaga Kemanusiaan

hari solidaritas Palestina

Views: 47

Tanggal 29 November diperingati di seluruh dunia sebagai Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina (International Day of Solidarity with the Palestinian People). Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1977 melalui Resolusi A/RES/32/40 B untuk mengingatkan dunia bahwa perjuangan rakyat Palestina untuk mendapatkan hak-haknya yang sah masih jauh dari selesai. PBB secara resmi menegaskan kembali hal ini dalam pesan Sekretaris Jenderal pada peringatan tahun 2025.

Momentum ini diperingati di banyak negara, termasuk Indonesia. Media nasional mencatat bahwa Hari Solidaritas Palestina 2025 diperingati dengan kampanye kemanusiaan, pernyataan sikap, dan berbagai aksi edukatif untuk meningkatkan kesadaran publik.

Mengapa 29 November Menjadi Hari Solidaritas Palestina?

Tanggal 29 November merupakan tanggal historis ketika Majelis Umum PBB pada tahun 1947 mengesahkan Resolusi 181, atau UN Partition Plan, yang membagi wilayah Mandat Palestina menjadi dua negara: satu untuk penduduk Arab-Palestina dan satu untuk penduduk Yahudi. Namun, rencana ini tidak pernah terwujud secara adil. Konflik berkepanjangan, pendudukan, pemindahan paksa, dan ketidaksetaraan akses sumber daya berlangsung hingga kini. Karena itu, tanggal ini dipilih PBB sebagai simbol bahwa masih ada pekerjaan besar dunia untuk menghadirkan keadilan bagi Palestina.

Solidaritas dalam Perspektif Humanitas

Dalam pesan resminya, Sekjen PBB António Guterres kembali menegaskan bahwa rakyat Palestina berhak atas:

  • Hak menentukan nasib sendiri
  • Hak hidup aman dan bebas dari kekerasan
  • Hak atas tanah, kemerdekaan, dan martabat
  • Akses terhadap bantuan kemanusiaan
  • Perlindungan atas warga sipil tanpa diskriminasi

Hari Solidaritas Palestina tidak dimaksudkan untuk mendukung konflik, tetapi untuk menguatkan suara kemanusiaan: bahwa tidak boleh ada bangsa yang hidup dalam keterbatasan hak, ketidakadilan, dan kekerasan struktural.

Peran Perguruan Tinggi dan Ruang Ilmu Pengetahuan

Bagi kampus, termasuk FMIPA UNESA, peringatan ini relevan bukan dalam ranah politik, tetapi humanitarian literacy—kesadaran kemanusiaan yang harus ditanamkan kepada generasi muda melalui pendidikan.

Kampus sebagai ruang edukasi:

  • Mengkaji isu Palestina dalam perspektif sains, lingkungan, sosial, dan kemanusiaan
  • Menghindari disinformasi melalui literasi data dan analisis sumber
  • Mengangkat nilai moral universal: keadilan, anti-kekerasan, dan solidaritas

Dari sudut pandang MIPA:

  • Sains lingkungan: Konflik memengaruhi akses air, kualitas tanah, dan ekosistem — banyak publikasi ilmiah menyoroti krisis lingkungan akibat blokade dan perang.
  • Data science & statistika: Menganalisis data kemanusiaan, migrasi paksa, dan dampak jangka panjang konflik.
  • Etika sains: Mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus digunakan untuk kebaikan, bukan menghancurkan kehidupan manusia.

Palestina dan Dimensi Keadilan Global

Media internasional dan nasional mencatat bahwa 2025 menjadi salah satu tahun palin g sulit bagi rakyat Palestina karena meningkatnya instabilitas politik dan krisis kemanusiaan di beberapa wilayah.Peringatan Hari Solidaritas 2025 menjadi momen yang menyerukan kembali pentingnya solusi damai dan penyelesaian dua negara (two-state solution) yang diakui PBB. Indonesia, melalui berbagai pernyataan pemerintah dan masyarakat sipil, konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dan penegakan hak asasi manusia.

Refleksi untuk Sivitas Akademika FMIPA UNESA

Hari Solidaritas Palestina mengajak kita merenungkan:

  1. Bahwa ilmu pengetahuan tidak netral terhadap penderitaan manusia.
    Ia seharusnya berpihak pada kehidupan.
  2. Bahwa intelektualitas harus berjalan beriringan dengan empati.
    Cendekiawan tidak hanya mengolah data, tetapi memahami makna kemanusiaan di baliknya.
  3. Bahwa generasi muda Indonesia perlu membangun wawasan global.
    Krisis kemanusiaan di Palestina mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah alat perubahan sosial.
  4. Bahwa FMIPA dapat berkontribusi dengan cara ilmiah:
    – riset lingkungan,
    – literasi data,
    – publikasi ilmiah,
    – seminar & diskusi ilmiah,
    – edukasi anti-kekerasan dan kemanusiaan.

Penutup: Dari Pendidikan untuk Kemanusiaan

Peringatan Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina 2025 mengingatkan bahwa kemanusiaan adalah nilai universal yang melampaui batas negara dan agama.

“Tidak ada perdamaian tanpa keadilan. Tidak ada keadilan tanpa solidaritas.”

Sebagai bagian dari komunitas ilmiah, FMIPA UNESA memiliki peran moral dan edukatif untuk menumbuhkan wawasan global, empati, dan kecintaan pada perdamaian — nilai yang sangat penting untuk membentuk generasi masa depan yang beradab dan berintegritas.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)