Pendidikan sebagai Benteng Mitigasi: Belajar dari Banjir & Longsor Asia Tenggara 2025

Pendidikan sebagai mitigasi

Views: 64

Tragedi banjir dan longsor besar yang melanda Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Malaysia, dan Thailand pada akhir November 2025 kembali mengingatkan kita bahwa bencana hidrometeorologi bukan sekadar fenomena alam—tetapi persoalan literasi, mitigasi, dan kesiapsiagaan masyarakat. Dalam tiga hari saja, ratusan warga menjadi korban, ribuan mengungsi, dan berbagai wilayah lumpuh total akibat curah hujan ekstrem serta struktur geografis yang rentan.

Di balik kesedihan ini, ada satu pesan kuat: pendidikan memegang peran penting dalam menyelamatkan nyawa.

FMIPA Unesa mengajak publik melihat tragedi ini dari perspektif pendidikan, khususnya bagaimana sains dan literasi kebencanaan dapat membentuk masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana.

Literasi Sains untuk Memahami Risiko: Banjir Bukan Sekadar “Musibah Alam”

Dalam pendidikan sains, siswa diajarkan konsep:

  • Siklus air (hidrologi)
  • Awan konvektif dan curah hujan ekstrem
  • Kemiringan lereng dan kestabilan tanah
  • Dampak perubahan iklim dan pemanasan global

Sayangnya, teori sering terpisah dari realitas keseharian. Padahal memahami sains sederhana seperti “tanah jenuh air adalah pemicu longsor” atau “sungai yang dipersempit berpotensi banjir” dapat menjadi pengetahuan penyelamat nyawa.

Sekolah Bernuansa Sains & Kearifan Lokal: Ruang Edukasi yang Belum Optimal

Banyak sekolah telah mengajarkan materi kebencanaan dalam:

  • Prakarya & kewirausahaan (P5)
  • IPS & geografi
  • IPA Terpadu
  • Biologi, Fisika, dan Kimia

Namun implementasinya sering minim praktik dan minim konteks lokal. Padahal wilayah Indonesia—Aceh, Sumbar, Jawa, NTT, Kalimantan—memiliki kerentanan berbeda.

“Pendidikan sains harus kontekstual: mengajar sesuai risiko daerah masing-masing.”

Contoh integrasi pembelajaran:

  • IPA: eksperimen infiltrasi air di berbagai jenis tanah
  • Fisika: model arus banjir, kecepatan aliran, dan momentum
  • Biologi: peran hutan dan keanekaragaman hayati dalam mencegah erosi
  • Kimia: kualitas air pascabanjir (pH, kontaminan, mikroplastik)
  • Matematika: pemodelan probabilitas banjir & perhitungan curah hujan
  • Sains Data: pemanfaatan data cuaca dan machine learning untuk prediksi bencana

Literasi Kebencanaan Harus Menjadi “Kompetensi Dasar” Anak Indonesia

Negara-negara rawan bencana seperti Jepang memasukkan literasi kebencanaan sebagai bagian inti kurikulum. Anak-anak akan paham rute evakuasi, tahu tanda awal bencana, dan dapat mengambil keputusan cepat.

Di Asia Tenggara, bencana lintas negara 2025 menunjukkan bahwa:

“Kesiapsiagaan warga seringkali menentukan tingkat keselamatan lebih besar dibanding kelengkapan infrastruktur.”

Indonesia perlu meningkatkan:

  • Simulasi evakuasi rutin di sekolah
  • Pembelajaran berbasis proyek mitigasi (PjBL Kebencanaan)
  • Kolaborasi sekolah–kampus–masyarakat—pentahelix edukasi
  • Aplikasi digital edukatif untuk cuaca ekstrem

Pendidikan STEM untuk Masa Depan Tangguh Iklim

Tragedi banjir Asia Tenggara 2025 adalah sinyal bahwa perubahan iklim semakin nyata. Pendidikan STEM menjadi ujung tombak untuk:

  • mengembangkan early warning system,
  • merancang infrastruktur adaptif,
  • memetakan risiko dengan drone & penginderaan jauh,
  • dan melatih generasi muda menjadi ilmuwan, insinyur, serta pendidik peduli mitigasi.

FMIPA Unesa melalui berbagai program riset, pengabdian, serta kuliah tamu internasional telah mengarusutamakan isu iklim dan kebencanaan ini di berbagai jurusan, mulai dari Pendidikan IPA, Kimia, Fisika, Biologi, Matematika, hingga Sains Data dan Kecerdasan Artifisial.

Empati dan Pendidikan Karakter di Tengah Tragedi

Bencana tidak hanya berdampak fisik—juga emosional. Pendidikan juga harus mengajarkan empati sosial, solidaritas lintas daerah dan negara, kemampuan bekerja sama dalam situasi kritis, serta membangun ketahanan psikologis. Kita belajar dari Malaysia dan Thailand yang juga terdampak, bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas negara.

Penutup: Saatnya Mendidik untuk Ketangguhan, Bukan Sekadar Kelulusan

Banjir dan longsor Asia Tenggara 2025 adalah pengingat bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berhenti di ruang kelas. Sains harus hadir dalam kehidupan nyata, melindungi warga, dan menguatkan bangsa.

FMIPA Unesa berkomitmen untuk memperkuat riset kebencanaan, mengembangkan kurikulum kontekstual, dan meningkatkan edukasi publik melalui literasi sains yang inklusif dan aplikatif. Semoga tragedi ini menjadi titik tolak untuk membangun masa depan yang lebih siap, lebih peka, dan lebih peduli.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)