Views: 71
Surabaya, 30 November 2025 — Tragedi banjir dan longsor yang melanda Indonesia (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat), Malaysia, dan Thailand dalam beberapa hari terakhir mengguncang Asia Tenggara. Ratusan korban jiwa, ribuan warga mengungsi, serta kerusakan infrastruktur besar-besaran menunjukkan bahwa peristiwa ini bukan sekadar kejadian alam biasa. Dari sudut pandang sains kebumian dan atmosfer, fenomena ekstrem ini merupakan kombinasi dari dinamika meteorologi, oseanografi, dan dampak perubahan iklim global.
FMIPA Unesa mencoba menghadirkan perspektif ilmiah untuk membantu masyarakat memahami mengapa bencana sebesar ini dapat terjadi—dan apa yang bisa kita pelajari untuk mitigasi ke depan.
Peran Sistem Tekanan Rendah dan Siklon Tropis
Data meteorologi menunjukkan bahwa kawasan Samudra Hindia bagian timur dan Laut Andaman pada akhir November 2025 mengalami aktivitas pusaran tekanan rendah yang cukup kuat. Sistem ini memicu:
- penguapan besar-besaran dari permukaan laut yang suhunya lebih hangat,
- peningkatan pembentukan awan cumulonimbus berskala raksasa,
- intensifikasi hujan konvektif yang berlangsung berjam-jam.
Fenomena ini mirip dengan early-stage tropical depression, yang tidak menjadi siklon besar, namun cukup kuat untuk mencurahkan hujan ekstrem di jalur lintasannya—meliputi Aceh hingga Thailand Selatan.
Curah Hujan Ekstrem: Atmosfer yang ‘Kelebihan Uap Air’
Suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature/SST) yang tinggi meningkatkan kandungan uap air di atmosfer. Menurut hukum Clausius-Clapeyron, setiap kenaikan suhu 1°C memungkinkan udara menampung 7% lebih banyak uap air.
Ketika udara lembap ini naik karena konveksi, maka udara akan mengalami pendinginan mendadak, memadat menjadi awan hujan sangat tebal, dan mencurahkan hujan lebat dalam waktu singkat. Inilah sebabnya daerah Aceh dan Sumut mengalami hujan 100–200 mm per hari, sementara wilayah Malaysia dan Thailand juga terkena efek lanjutan dari sistem atmosfer yang sama.
Longsor: Interaksi Hujan dan Struktur Geologi
Tanah jenuh air (saturated soil) kehilangan daya ikat sehingga mudah meluncur pada daerah lereng. Beberapa faktor pemicu longsor dalam kejadian ini, di antaranya ialah curah hujan melebihi kapasitas infiltrasi tanah, batuan lapuk di pegunungan Sumatra Barat, pembangunan permukiman di zona rawan bencana, dan pembebanan lereng akibat pemotongan lahan. Interaksi antara geologi dan meteorologi inilah yang menyebabkan longsor besar terjadi bersamaan dengan banjir.
Dampak Perubahan Iklim: Musim Hujan yang Makin Tidak Terduga
Laporan IPCC dan BMKG menunjukkan tren bahwa:
- hujan ekstrem makin sering dan intens,
- musim hujan bergeser dan tidak lagi mengikuti pola monsun klasik,
- badai lokal dan sistem tekanan rendah menjadi lebih kuat.
Perubahan pola iklim ini membuat wilayah Asia Tenggara berada pada kondisi rentan, terutama ketika fenomena global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) ikut memengaruhi dinamika atmosfer.
Perspektif FMIPA Unesa: Sains untuk Kesiapsiagaan
Fenomena banjir Asia Tenggara 2025 menunjukkan bahwa meteorologi (fisika atmosfer), kimia lingkungan, geologi dan geomorfologi, serta pemodelan matematika bencana berperan penting untuk memahami risiko dan merancang mitigasi.
FMIPA Unesa mendorong riset pemodelan hidrologi-hidraulik, prediksi cuaca berbasis komputasi, edukasi literasi bencana untuk sekolah, dan integrasi data lingkungan berbasis AI. Sains bukan hanya untuk memahami fenomena, tetapi untuk menyelamatkan kehidupan.
Penutup
Banjir dan longsor akhir November 2025 adalah pengingat bahwa perubahan iklim dan kerentanan lingkungan tidak dapat diabaikan. Dengan kajian ilmiah, kolaborasi lintas negara, serta kesadaran mitigasi yang lebih kuat, diharapkan Asia Tenggara dapat lebih siap menghadapi peristiwa ekstrem di masa mendatang.
FMIPA Unesa menyampaikan duka mendalam atas seluruh korban bencana di Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
(Niswati, Tim Redaksi FMIPA Unesa)
