Sains di Balik Banjir Asia Tenggara 2025: Siklon, Curah Hujan Ekstrem, dan Perubahan Iklim

sains di balik banjir dan longsor Asia Tenggara

Views: 87

Tragedi Banjir Asia Tenggara: Sains di Baliknya

Banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, serta wilayah luas di Malaysia dan Thailand pada akhir November 2025 bukan hanya bencana kemanusiaan—tetapi juga peristiwa meteorologi yang kompleks. Dalam beberapa hari, ribuan rumah terendam, ratusan korban jiwa dilaporkan, dan puluhan ribu warga mengungsi.

Di balik tragedi ini terdapat rangkaian fenomena atmosfer yang saling berkaitan: siklon tropis, curah hujan ekstrem, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), serta dampak perubahan iklim global yang semakin memperburuk intensitas hujan lebat.

Pengaruh Sistem Tekanan Rendah dan Siklon Tropis

Badan Meteorologi di Indonesia, Malaysia, dan Thailand mencatat adanya pusaran tekanan rendah di Samudra Hindia bagian Timur yang berkembang menjadi sistem cuaca basah berintensitas tinggi. Pusaran ini mengangkat uap air dalam jumlah sangat besar, memicu pertumbuhan awan konvektif raksasa (Cumulonimbus), dan menghasilkan hujan deras berhari-hari tanpa jeda.

Walaupun tidak tumbuh menjadi siklon tropis penuh, sistem ini memiliki karakteristik mirip embryonic cyclone yang memicu hujan persisten dan angin kuat.

Curah Hujan Ekstrem yang Dipicu Madden-Julian Oscillation (MJO)

Pada akhir November 2025, indeks MJO menunjukkan aktivitas fase basah yang melintas di wilayah Samudra Hindia menuju Asia Tenggara. MJO merupakan gelombang atmosfer berskala global yang menguatkan pembentukan awan badai, meningkatkan intensitas konveksi, dan menghasilkan hujan ekstrem dalam durasi singkat. Ketika MJO “fase basah” bertemu dengan pusaran tekanan rendah, hujan yang dihasilkan menjadi sangat intens, sebagaimana terlihat di Aceh, Sumut, Sumbar, Malaysia, dan Thailand.

Pemanasan Global: Udara Lebih Hangat, Uap Air Lebih Banyak

Faktor terbesar yang memperparah banjir Asia Tenggara 2025 adalah perubahan iklim. Menurut hukum Clausius–Clapeyron, setiap kenaikan suhu atmosfer sebesar 1°C membuat udara mampu menampung 7% lebih banyak uap air. Artinya, awan-awan badai dapat menyimpan lebih banyak air, ketika hujan turun, volumenya jauh lebih besar, dan durasi hujan cenderung lebih panjang. Inilah sebabnya banjir yang dulu dianggap “50 tahunan” kini lebih sering terjadi hanya dalam hitungan tahun.

Longsor Akibat Tanah Jenuh Air

Di banyak wilayah Sumatra, tanah berbukit dan lereng curam mengalami kejenuhan air akibat hujan tak henti. Ketika tanah tidak mampu lagi menyerap air, maka tekanan pori meningkat, struktur tanah melemah, dan kemudian longsor pun terjadi. Inilah penyebab banyaknya longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar selama banjir terjadi.

Efek Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hilangnya Vegetasi

Faktor lokal di Indonesia yang turut memperparah dampak banjir, di antaranya adalah DAS yang kritis tak mampu menahan limpasan air, hilangnya hutan dan vegetasi membuat air langsung mengalir ke permukiman, serta infrastruktur drainase kota tak memadai. Di Malaysia dan Thailand, situasinya serupa. Urbanisasi cepat membuat air hujan tidak terserap, melainkan langsung mengalir menumpuk di dataran rendah.

Hujan Sangat Luas hingga Lintas Negara

Fenomena ini tidak hanya menimpa Indonesia. Malaysia dan Thailand juga melaporkan terjadinya banjir parah di Selangor, Perak, Kedah, Terengganu, banjir ekstrem di Hat Yai dan Songkhla Thailand, serta ribuan warga mengungsi dan puluhan korban jiwa. Fenomena hujan lintas negara terjadi karena sistem atmosfer yang sama bergerak dari barat ke timur dan mencakup area ribuan kilometer.

Apa Pelajaran Sains dari Tragedi Ini?

Tragedi banjir Asia Tenggara 2025 mengingatkan kita bahwa:

  • Sains atmosfer sangat penting dalam mitigasi bencana,
  • Pemodelan iklim dan cuaca ekstrim harus menjadi prioritas penelitian,
  • Rekayasa lingkungan seperti restorasi hutan, rehabilitasi DAS, dan peningkatan kapasitas drainase perlu dipercepat,
  • Literasi iklim masyarakat harus ditingkatkan — terutama di era perubahan iklim.

Penutup: Sains untuk Menyelamatkan Nyawa

Banjir mematikan yang melanda Indonesia, Malaysia, dan Thailand di akhir November 2025 adalah tragedi yang memilukan. Namun, dengan memahami sains di baliknya, kita dapat:

  • Merancang sistem peringatan dini lebih baik,
  • Membuat kebijakan berbasis data,
  • Meningkatkan ketahanan iklim masyarakat,
  • Mencegah jatuhnya korban yang lebih banyak di masa depan.

FMIPA Unesa berkomitmen terus mendorong riset, edukasi, dan inovasi untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)

diadaptasi dari berbagai sumber terkini