Hari Gunung Internasional 2025: Menjaga Ekosistem Pegunungan untuk Keberlanjutan Bumi

Hari Gunung Internasional

Views: 47

Setiap tanggal 11 Desember, dunia memperingati Hari Gunung Internasional (International Mountain Day) sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran akan peran vital ekosistem pegunungan bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan lingkungan. Pada tahun 2025, peringatan ini kembali mengingatkan bahwa gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan penopang utama air, keanekaragaman hayati, iklim, dan ketahanan pangan.

Bagi sivitas akademika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya, Hari Gunung Internasional memiliki keterkaitan erat dengan kajian sains lingkungan, geosains, perubahan iklim, serta konservasi alam.

Sejarah Hari Gunung Internasional

Hari Gunung Internasional ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Resolusi Majelis Umum PBB tahun 2002, sebagai tindak lanjut dari kesepakatan Agenda 21 hasil Konferensi Bumi di Rio de Janeiro. Sejak saat itu, 11 Desember diperingati secara global untuk menyoroti pentingnya pegunungan dan tantangan yang dihadapi wilayah tersebut.

Pegunungan mencakup sekitar 27% permukaan daratan bumi dan menjadi sumber kehidupan bagi lebih dari separuh populasi dunia, terutama sebagai sumber air bersih dan pusat keanekaragaman hayati.

Makna Hari Gunung Internasional di Era Perubahan Iklim

Di tengah krisis iklim global, peran pegunungan menjadi semakin krusial. Pegunungan sangat rentan terhadap:

  • Perubahan suhu global
  • Pencairan es dan gletser
  • Bencana alam seperti longsor, banjir bandang, dan erosi
  • Tekanan aktivitas manusia, termasuk deforestasi dan pariwisata tidak berkelanjutan

Hari Gunung Internasional mengajak masyarakat dunia untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian ekosistem pegunungan, demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan generasi mendatang.

Indonesia dan Kekayaan Pegunungannya

Sebagai negara tropis dengan deretan pegunungan vulkanik dan non-vulkanik, Indonesia memiliki peran strategis dalam isu pegunungan dunia. Pegunungan di Indonesia berfungsi sebagai:

  • Daerah tangkapan air (water catchment area)
  • Pusat keanekaragaman hayati endemik
  • Penyangga iklim regional
  • Sumber mata pencaharian masyarakat lokal

Namun, berbagai tantangan seperti alih fungsi lahan, aktivitas pertambangan, dan perubahan iklim menuntut pendekatan berbasis sains untuk pengelolaan pegunungan yang berkelanjutan.

Peran Sains dan FMIPA dalam Konservasi Pegunungan

Sebagai fakultas yang menaungi ilmu dasar, FMIPA Unesa berkontribusi dalam upaya pelestarian ekosistem pegunungan melalui berbagai pendekatan ilmiah, antara lain:

  • Fisika dan geofisika: kajian kebencanaan, mitigasi longsor, dan dinamika bumi
  • Kimia: analisis kualitas air, tanah, dan dampak pencemaran lingkungan
  • Biologi: konservasi biodiversitas, ekologi pegunungan, dan flora-fauna endemik
  • Matematika dan statistika: pemodelan perubahan iklim dan risiko lingkungan

Melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, FMIPA berperan dalam meningkatkan literasi lingkungan serta mendorong pengambilan keputusan berbasis data dan sains.

Hari Gunung Internasional dan Peran Generasi Muda

Peringatan Hari Gunung Internasional 2025 menjadi ajakan bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk lebih peduli terhadap lingkungan pegunungan. Kesadaran ekologis, riset ilmiah, serta gaya hidup ramah lingkungan menjadi kunci dalam menjaga kelestarian gunung sebagai warisan alam dunia.

Penutup

Hari Gunung Internasional bukan sekadar peringatan lingkungan, melainkan pengingat bahwa keberlanjutan bumi sangat bergantung pada kesehatan ekosistem pegunungan. Melalui penguatan sains dan pendidikan lingkungan, FMIPA Unesa terus berkomitmen mendukung upaya pelestarian alam demi masa depan yang berkelanjutan.

Selamat Memperingati Hari Gunung Internasional 2025.
Mari jaga gunung, jaga air, dan jaga kehidupan.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)