Views: 68
Setiap tanggal 10 Desember, dunia memperingati Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia sebagai momentum global untuk menegaskan bahwa hak asasi manusia merupakan hak dasar yang melekat pada setiap individu sejak lahir. Pada tahun 2025, peringatan Hari HAM Sedunia kembali mengajak masyarakat dunia untuk membumikan nilai-nilai HAM dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hak atas pendidikan, kesehatan, lingkungan yang layak, serta akses terhadap ilmu pengetahuan.
Bagi sivitas akademika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya, peringatan Hari HAM Sedunia memiliki makna penting dalam konteks pengembangan sains yang humanis, inklusif, dan berkelanjutan.
Sejarah Hari HAM Sedunia
Hari HAM Sedunia diperingati untuk mengenang disahkannya Universal Declaration of Human Rights (UDHR) oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 10 Desember 1948. Deklarasi ini menjadi tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia karena menetapkan standar universal mengenai hak dan kebebasan dasar yang harus dihormati oleh seluruh negara.
Sejak saat itu, 10 Desember diperingati setiap tahun sebagai pengingat bahwa perlindungan HAM merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun masyarakat sipil.
Makna Hari HAM Sedunia di Era Modern
Di tengah dinamika global, kemajuan teknologi, dan tantangan lingkungan, isu HAM berkembang semakin luas. Hak asasi manusia tidak hanya dimaknai sebagai kebebasan sipil dan politik, tetapi juga mencakup:
- Hak atas pendidikan yang bermutu dan inklusif
- Hak atas kesehatan dan kesejahteraan
- Hak atas lingkungan hidup yang bersih dan sehat
- Hak atas akses ilmu pengetahuan dan teknologi
- Hak atas perlindungan dari diskriminasi dan ketidakadilan
Peringatan Hari HAM Sedunia 2025 menegaskan bahwa pemenuhan HAM merupakan prasyarat utama bagi pembangunan yang adil dan berkelanjutan.
HAM, Lingkungan, dan Peran Ilmu Pengetahuan
Isu HAM semakin erat kaitannya dengan persoalan lingkungan dan sains. Hak untuk hidup di lingkungan yang sehat kini diakui sebagai bagian penting dari hak asasi manusia. Krisis iklim, pencemaran, dan degradasi lingkungan berpotensi mengancam hak dasar manusia, terutama kelompok rentan.
Dalam konteks ini, ilmu pengetahuan memiliki peran strategis untuk:
- menyediakan data dan bukti ilmiah bagi perlindungan HAM,
- mendukung kebijakan berbasis sains yang adil dan inklusif,
- serta meningkatkan literasi masyarakat terhadap isu HAM dan lingkungan.
Kontribusi FMIPA dalam Menegakkan Nilai HAM
Sebagai fakultas yang menaungi ilmu dasar, FMIPA Unesa berperan dalam menanamkan nilai-nilai HAM melalui pendidikan dan riset, antara lain:
- Pendidikan sains yang inklusif, ramah bagi seluruh lapisan masyarakat
- Riset lingkungan dan kesehatan, yang mendukung hak atas lingkungan hidup yang layak
- Pengembangan literasi sains, agar masyarakat mampu mengambil keputusan berbasis pengetahuan
- Pengabdian kepada masyarakat, sebagai wujud tanggung jawab sosial akademisi
Pendekatan sains yang beretika dan berorientasi pada kemanusiaan menjadi fondasi penting dalam pembangunan berbasis HAM.
Kontribusi FMIPA dalam Menegakkan Nilai HAM
Sebagai fakultas yang menaungi ilmu dasar, FMIPA Unesa berperan dalam menanamkan nilai-nilai HAM melalui pendidikan dan riset, antara lain:
- Pendidikan sains yang inklusif, ramah bagi seluruh lapisan masyarakat
- Riset lingkungan dan kesehatan, yang mendukung hak atas lingkungan hidup yang layak
- Pengembangan literasi sains, agar masyarakat mampu mengambil keputusan berbasis pengetahuan
- Pengabdian kepada masyarakat, sebagai wujud tanggung jawab sosial akademisi
Pendekatan sains yang beretika dan berorientasi pada kemanusiaan menjadi fondasi penting dalam pembangunan berbasis HAM.
Penutup
Hari HAM Sedunia mengingatkan kita bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus sejalan dengan penghormatan terhadap martabat manusia. Melalui pendidikan, riset, dan pengabdian yang berlandaskan nilai kemanusiaan, FMIPA Unesa terus berkomitmen mendukung terwujudnya masyarakat yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Selamat Memperingati Hari HAM Sedunia 2025.
Mari kita jaga dan tegakkan hak asasi manusia sebagai fondasi kehidupan bersama.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)
