Hari Konservasi Alam Liar Sedunia: Sains, Teknologi, dan Peran FMIPA Unesa dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati

Hari KOservasi Alam Liar Sedunia

Views: 58

Surabaya, 4 Desember 2025 — Setiap tanggal 4 Desember, dunia memperingati Hari Konservasi Alam Liar Sedunia (Wildlife Conservation Day). Momentum ini mengingatkan masyarakat global tentang pentingnya melindungi satwa liar, habitat alaminya, serta menjaga keseimbangan ekosistem yang semakin terancam oleh aktivitas manusia.

Peringatan ini pertama kali dideklarasikan oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada 2012, merespons meningkatnya perdagangan ilegal satwa liar, termasuk penyitaan 23 ton gading gajah pada 2011 — salah satu kasus terbesar dalam sejarah. Sejak saat itu, tanggal 4 Desember menjadi simbol perjuangan untuk menjaga keberlanjutan kehidupan liar di seluruh dunia.

Ancaman Terbesar bagi Satwa Liar

Berbagai laporan internasional (UNEP, WWF, dan IUCN) mengidentifikasi sejumlah ancaman utama terhadap satwa liar:

1. Hilangnya Habitat

Deforestasi, urbanisasi, dan alih fungsi lahan menyebabkan banyak spesies kehilangan rumah alaminya.

2. Perburuan dan Perdagangan Ilegal

Gading, kulit, bagian tubuh tertentu, hingga satwa eksotis masih menjadi target pasar gelap internasional.

3. Perubahan Iklim

Kenaikan suhu global dan perubahan pola cuaca mengganggu rantai makanan serta siklus kehidupan flora dan fauna.

4. Polusi

Sampah plastik, polusi kimia, hingga pencemaran air merusak kehidupan biota air dan darat.

5. Invasi Spesies Asing

Spesies invasif mengganggu keseimbangan ekologi dan memicu punahnya spesies lokal.

Peran Sains FMIPA dalam Konservasi Satwa Liar

Sebagai fakultas dengan basis keilmuan kuat dalam Biologi, Kimia, Fisika, Matematika, Data Science, dan AI, FMIPA Unesa memiliki kontribusi strategis terhadap isu konservasi.

1. Biologi Konservasi

Prodi Biologi dapat aktif melakukan eksplorasi biodiversitas, edukasi ekologi untuk masyarakat, riset satwa liar di kawasan konservasi (Baluran, Alas Purwo, dll.), dan juga inovasi media edukasi seperti Biorda Card untuk meningkatkan literasi sains lingkungan.

2. Kimia Lingkungan

Riset Kimia FMIPA dapat membantu menganalisis kualitas air dan tanah pada ekosistem terancam, mengembangkan metode deteksi polutan, mempromosikan green chemistry untuk mengurangi limbah berbahaya.

3. Fisika Lingkungan

Kajian fisika dalam konservasi bisa meliputi monitoring cuaca ekstrem, penggunaan sensor untuk memetakan habitat, serta pemodelan iklim dan dinamika lingkungan.

4. Matematika & Data Science

Penerapan matematika dan komputasi digunakan untuk pemodelan populasi satwa, prediksi krisis habitat menggunakan machine learning, serta analisis data konservasi berskala besar.

5. Artificial Intelligence

AI menjadi alat penting dalam deteksi satwa via kamera trap, prediksi konflik satwa-manusia, serta pemetaan habitat berbasis citra satelit.

Mengapa Konservasi Penting bagi Indonesia?

Indonesia merupakan megabiodiversity country dengan:

  • 17.000 pulau,
  • 300.000 spesies satwa,
  • 2 dari 3 terumbu karang dunia berada di wilayahnya.

Namun, laporan KLHK menunjukkan >500 spesies saat ini berada dalam kategori terancam punah. Upaya konservasi bukan hanya kewajiban ilmiah, tetapi juga tanggung jawab moral dan ekologis.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Untuk civitas akademika FMIPA:

  • ikut kegiatan konservasi, kampanye lingkungan, dan edukasi publik,
  • mendukung riset biodiversitas,
  • mengembangkan inovasi STEM untuk pelestarian alam.

Untuk masyarakat:

  • menghindari pembelian satwa liar ilegal,
  • mengurangi sampah plastik,
  • mendukung kawasan konservasi,
  • menanam pohon dan menjaga kebersihan lingkungan.

FMIPA Unesa: Sains untuk Konservasi dan Masa Depan Bumi

Melalui penelitian, pengabdian masyarakat, dan inovasi pembelajaran, FMIPA Unesa berkomitmen membangun generasi muda yang sadar lingkungan dan berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan alam liar Indonesia.

Peringatan Hari Konservasi Alam Liar Sedunia 2025 mengingatkan kita bahwa melindungi satwa liar berarti menjaga masa depan peradaban manusia.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)