Views: 39
3 Desember diperingati sebagai Hari Penyandang Disabilitas Internasional (International Day of Persons with Disabilities), sebuah momentum global yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 1992. Tahun 2025 mengusung tema yang selaras dengan agenda global: “Advancing Accessibility and Inclusion for a Sustainable Future“
Peringatan ini mendorong seluruh masyarakat dunia untuk memastikan bahwa hak, martabat, dan partisipasi penuh penyandang disabilitas mendapat perhatian yang setara dalam seluruh aspek kehidupan—termasuk pendidikan, teknologi, kesehatan, dan pembangunan berkelanjutan.
Mengapa Hari Disabilitas Internasional Penting?
Menurut referensi dari WHO dan PBB, lebih dari 1,3 miliar penduduk dunia adalah penyandang disabilitas. Mereka menghadapi hambatan dalam akses pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, dan teknologi. Oleh karena itu, Hari Penyandang Disabilitas Internasional menjadi pengingat bahwa:
- Disabilitas bukanlah keterbatasan, melainkan keragaman manusia.
- Lingkungan yang tidak aksesibel adalah penghalang terbesar—bukan kondisi fisik atau sensoriknya.
- Pendidikan memiliki peran kunci dalam membangun masyarakat inklusif.
Inklusi di Unesa: Keunggulan dalam Olahraga, Seni, dan Disabilitas
Universitas Negeri Surabaya dikenal luas sebagai kampus yang memiliki brand values kuat di bidang:
1. Olahraga
Unesa adalah rumah bagi para atlet nasional dan internasional, termasuk atlet paralimpiade. Infrastruktur olahraga adaptif serta pelatihan yang inklusif menjadi keunggulan kampus.
2. Seni
Program studi seni dan kegiatan kreatif di Unesa banyak melibatkan mahasiswa difabel, dengan pendekatan inklusi budaya, akses panggung, dan literasi seni tanpa batas.
3. Disabilitas
Unesa dinobatkan sebagai salah satu perguruan tinggi dengan praktik inklusi terbaik di Indonesia. Beberapa keunggulan utamanya:
- UPT Layanan Disabilitas (ULD) yang menyediakan pendamping akademik hingga teknologi bantu.
- Riset dan inovasi alat bantu (assistive technology) yang digerakkan oleh dosen dan mahasiswa.
- Kebijakan kampus yang ramah difabel, termasuk aksesibilitas gedung, ruang kuliah, dan LMS.
Melalui tiga pilar ini, Unesa menjadi contoh bagaimana kampus dapat membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, aman, dan memberdayakan.
Peran FMIPA Unesa dalam Mendukung Pendidikan Inklusif
Sebagai fakultas yang berbasis sains dan teknologi, FMIPA Unesa turut memberikan kontribusi nyata melalui:
1. Pengembangan Teknologi Bantu (Assistive Technology)
Mahasiswa Sains Data, Fisika, Matematika, Kimia, dan Biologi terlibat dalam bidang:
- Sensor navigasi untuk tunanetra
- Sistem pembelajaran adaptif berbasis AI
- Media pembelajaran saintifik inklusif
- Riset ergonomi dan aksesibilitas laboratorium
2. Penelitian dan Pengabdian Berbasis Inklusi
Dosen FMIPA aktif dapat melakukan:
- Pelatihan guru dalam pembelajaran sains untuk sekolah inklusif
- Pengembangan modul sains adaptif
- Riset psikometrika alat asesmen ramah difabel
3. Literasi Publik melalui Artikel Ilmiah Populer
Website FMIPA menjadi ruang edukasi publik terkait:
- isu disabilitas dalam konteks STEM,
- pentingnya akses sains untuk semua, dan
- inovasi teknologi inklusif.
Tema dan Makna Hari Disabilitas 2025
Berdasarkan publikasi dari PBB, Detik, Medcom, Liputan6, dan Tribunnews, Hari Penyandang Disabilitas Internasional 2025 menekankan:
✔ Aksesibilitas universal
Bangunan, transportasi, teknologi, dan komunikasi harus dapat digunakan oleh semua orang.
✔ Pendidikan inklusif
Semua peserta didik, tanpa kecuali, harus memiliki kesempatan belajar yang setara.
✔ Partisipasi penuh dalam masyarakat
Penyandang disabilitas tidak hanya dilibatkan sebagai peserta, tetapi juga sebagai pengambil keputusan.
✔ Teknologi untuk inklusi
AI, big data, dan inovasi digital menjadi kunci percepatan aksesibilitas.
Sains, Teknologi, dan Masa Depan Inklusi
Hari Disabilitas Internasional mengingatkan kita bahwa masa depan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika semua orang dapat berpartisipasi. Di FMIPA Unesa, komitmen ini tercermin dalam:
- pembelajaran sains yang ramah difabel,
- kurikulum adaptif,
- inovasi teknologi,
- serta budaya akademik yang menjunjung martabat manusia.
Penutup
Hari Penyandang Disabilitas Internasional bukan hanya peringatan, tetapi ajakan untuk bertindak: Membangun dunia di mana setiap orang dapat belajar, berkarya, dan berkontribusi tanpa hambatan. Dengan kekuatan sains, teknologi, dan pendidikan inklusif, FMIPA Unesa terus berkomitmen menjadi bagian dari perubahan tersebut.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)
