Views: 52
Setiap 5 Desember, dunia memperingati Hari Sukarelawan Internasional (International Volunteer Day/IVD)—sebuah momen global untuk mengapresiasi kontribusi para relawan sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam berbagai aksi kemanusiaan. Sejak ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1985, peringatan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah bangsa bukan hanya ditopang oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh solidaritas dan kepedulian sosial.
Tahun 2025 membawa tema global yang kembali menegaskan pentingnya relawan sebagai garda terdepan dalam krisis iklim, kesehatan masyarakat, hingga transformasi digital. Di berbagai daerah, relawan membantu evakuasi korban bencana, mengedukasi masyarakat, mendukung layanan kesehatan, hingga memperkuat literasi teknologi masyarakat.
Indonesia pun merayakan momen ini dengan berbagai aksi nyata, mulai dari komunitas sosial, organisasi kemanusiaan, hingga kelompok mahasiswa yang terlibat aktif dalam kegiatan pemberdayaan. Di Jawa Timur, misalnya, sejumlah komunitas relawan turut berperan dalam respon kebencanaan dan edukasi publik, sebagaimana dilaporkan berbagai media nasional.
FMIPA Unesa dan Sains untuk Kemanusiaan
Sebagai fakultas yang kuat di bidang Matematika, Sains, dan Teknologi, FMIPA Unesa memandang Hari Sukarelawan Internasional bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah refleksi bahwa sains memiliki peran besar dalam aksi sosial. Di lingkungan FMIPA, banyak mahasiswa dan dosen yang terlibat dalam kegiatan sukarela, antara lain:
- Relawan pendidikan sains untuk sekolah-sekolah di daerah 3T
- Edukasi mitigasi bencana berbasis kajian geosains dan atmosfer
- Pendampingan literasi digital dan keamanan siber bagi masyarakat
- Program konservasi lingkungan, penanaman pohon, dan riset biodiversitas
- Keterlibatan dalam program Bina Talenta Indonesia, mendukung siswa berprestasi di tingkat nasional
Semua aktivitas tersebut menegaskan bahwa nilai kesukarelawanan selaras dengan semangat FMIPA: “Sains untuk Kemanusiaan“
Mengapa Relawan Penting dalam Perspektif Sains?
Banyak riset global menunjukkan bahwa keberadaan relawan berdampak langsung pada ketahanan masyarakat. Pada sektor kesehatan misalnya, relawan membantu deteksi dini, edukasi, dan advokasi kesehatan mental. Di bidang lingkungan, relawan konservasi membantu pelestarian keanekaragaman hayati. Dalam konteks kebencanaan, relawan berperan dalam early warning system, pemetaan risiko, dan respon darurat berbasis data ilmiah.
Di sinilah sains berperan: relawan yang dibekali pemahaman ilmiah mampu memberikan intervensi yang lebih tepat, cepat, dan berdampak luas.
Arah Masa Depan: Relawan di Era Kecerdasan Artifisial
Sejalan dengan transformasi digital, International Volunteer Day 2025 juga menyoroti munculnya AI for Humanity, yaitu gagasan bahwa kecerdasan buatan dapat digunakan untuk mendukung aksi kerelawanan. Contoh penerapannya meliputi pemetaan wilayah rawan banjir memakai data satelit, chatbot edukasi kesehatan, analisis data sosial untuk mitigasi konflik, serta sistem prediksi bencana. FMIPA Unesa sebagai fakultas dengan prodi unggulan seperti Data Science, Kecerdasan Artifisial, Biologi, Kimia, Fisika, dan Matematika, memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi di bidang ini.
Kesimpulan
Hari Sukarelawan Internasional mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh empati dan gotong royong. Di FMIPA Unesa, sains bukan sekadar disiplin akademik, tetapi alat untuk menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat. Mari terus melangkah bersama: Relawan bergerak, sains menerangi untuk kemanusiaan.
Referensi:
United Nations – International Volunteer Day (2025).
Liputan6.com – Hari Relawan Internasional 2025.
Detik.com – Komunitas relawan yang berperan dalam kesehatan masyarakat.
Kompas.com – Sejarah dan makna International Volunteer Day.
Radar Tuban – Makna solidaritas global dalam peringatan 5 Desember.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)
