Views: 58
Setiap tanggal 21 Mei, dunia memperingati Hari Teh Internasional (International Tea Day) sebagai bentuk apresiasi terhadap teh—salah satu minuman paling banyak dikonsumsi di dunia—yang memiliki nilai budaya, ekonomi, kesehatan, dan ilmiah. Peringatan ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran global tentang produksi teh berkelanjutan, kesejahteraan petani, serta manfaat teh bagi kesehatan manusia.
Bagi sivitas akademika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya, Hari Teh Internasional dapat dipandang dari perspektif sains, mulai dari kimia senyawa aktif, biologi tanaman, hingga kesehatan lingkungan.
Sejarah Hari Teh Internasional
Hari Teh Internasional ditetapkan secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan diperingati setiap 21 Mei. Penetapan ini bertujuan untuk mengakui peran penting teh dalam pembangunan berkelanjutan, pengentasan kemiskinan, dan ketahanan pangan, khususnya di negara-negara produsen teh.
Sebelumnya, Hari Teh sempat diperingati pada tanggal 15 Desember oleh komunitas tertentu. Namun sejak pengakuan PBB, tanggal 21 Mei menjadi acuan internasional yang memperkuat posisi teh sebagai komoditas global yang strategis.
Teh dalam Perspektif Sains
Dari sudut pandang ilmiah, teh merupakan minuman yang kaya akan senyawa bioaktif, seperti:
- Polifenol dan flavonoid (antioksidan alami)
- Katekin, yang berperan dalam menjaga kesehatan sel
- Kafein, dalam kadar yang lebih seimbang dibanding kopi
- Asam amino L-theanine, yang berpengaruh pada relaksasi dan konsentrasi
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh secara moderat dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, termasuk mendukung fungsi metabolisme, menjaga kesehatan jantung, serta membantu mengurangi risiko stres oksidatif.
Teh, Lingkungan, dan Keberlanjutan
Hari Teh Internasional juga menyoroti pentingnya produksi teh yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Budidaya teh sangat bergantung pada kualitas tanah, air, dan iklim, sehingga perubahan iklim dan degradasi lingkungan dapat berdampak langsung pada keberlanjutan produksi teh.
Dalam konteks ini, pendekatan sains berperan penting untuk: meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan pertanian teh, menjaga kualitas lingkungan perkebunan, serta mendukung kesejahteraan petani teh.
Budaya Ngeteh dan Indonesia
Indonesia memiliki tradisi minum teh (ngeteh) yang kuat dan beragam, baik sebagai bagian dari budaya sehari-hari maupun dalam konteks sosial. Selain menjadi komoditas ekonomi penting, teh juga menjadi simbol kebersamaan, kesederhanaan, dan kearifan lokal.
Peringatan Hari Teh Internasional menjadi momen refleksi bahwa minuman sederhana seperti teh menyimpan nilai budaya dan ilmiah yang mendalam.
Peran Sains dan FMIPA
Sebagai fakultas yang menaungi ilmu dasar, FMIPA Unesa berkontribusi dalam kajian terkait teh melalui berbagai disiplin ilmu, antara lain:
- Kimia: analisis senyawa aktif dan kualitas produk teh
- Biologi: kajian fisiologi tanaman teh dan keanekaragaman hayati
- Fisika dan lingkungan: pengaruh iklim dan lingkungan terhadap produksi teh
- Statistika: analisis data produksi dan kualitas pangan
Pendekatan sains ini mendukung pengembangan pangan dan minuman yang sehat, aman, dan berkelanjutan.
Penutup
Hari Teh Internasional mengingatkan kita bahwa teh bukan sekadar minuman, melainkan bagian dari budaya global, sumber pengetahuan ilmiah, dan simbol keberlanjutan. Melalui penguatan sains dan kesadaran lingkungan, FMIPA Unesa terus mendukung pemanfaatan sumber daya alam secara bijak untuk kesejahteraan masyarakat.
Selamat Memperingati Hari Teh Internasional. Mari nikmati teh dengan kesadaran akan ilmu, budaya, dan keberlanjutan.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)
