Views: 43
Surabaya β Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menghadirkan diskusi akademik internasional melalui pelaksanaan General Lecture 2 dalam rangkaian Visiting Top Professor (VTP) FMIPA UNESA 2026 pada Selasa, 19 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Prof. Slamet Dajono FMIPA UNESA ini menghadirkan Prof. Ebenezer Bonyah, profesor matematika dari Akenten Appiah-Menka University of Skills Training and Entrepreneurial Development (AAMUSTED), Ghana, yang juga masuk dalam daftar Top 2% World Scientists.
Pada sesi kuliah umum kali ini, Prof. Bonyah membawakan topik βInterdisciplinary Science Learning through Mathematical Modellingβ. Di hadapan dosen dan mahasiswa lintas program studi, ia menekankan bahwa berbagai tantangan besar abad ke-21 tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan keilmuan yang berdiri sendiri. Perubahan iklim, pandemi, kecerdasan buatan, pembangunan perkotaan, hingga keberlanjutan lingkungan merupakan sistem yang saling terhubung dan membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu.

Menurut Prof. Bonyah, mathematical modelling menjadi jembatan yang menghubungkan sains, pendidikan, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan. Melalui pemodelan matematika, fenomena dunia nyata dapat diterjemahkan ke dalam struktur matematis yang memungkinkan proses analisis, prediksi, dan pengambilan keputusan berbasis data. Ia menjelaskan bahwa pembelajaran sains modern perlu bergerak dari sekadar memahami konsep menuju kemampuan memecahkan masalah nyata melalui pendekatan interdisipliner.
Dalam paparannya, Prof. Bonyah mengkritisi praktik pendidikan yang masih memisahkan ilmu pengetahuan ke dalam sekat-sekat disiplin. Menurutnya, realitas tidak bekerja secara terpisah sebagaimana mata pelajaran di ruang kelas. Banjir tidak hanya berkaitan dengan hidrologi, penyakit tidak hanya berkaitan dengan biologi, dan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan teori pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran sains interdisipliner menjadi kebutuhan penting untuk mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi kompleksitas dunia modern.
Ia juga menyoroti posisi strategis UNESA dalam mendukung Visi Indonesia Emas 2045 melalui pengembangan pendidikan yang terintegrasi. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan calon pendidik, ilmuwan, dan inovator yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks tersebut, mathematical modelling dapat menjadi fondasi untuk membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan inovasi berbasis data.
Sebagai contoh implementasi, Prof. Bonyah memaparkan berbagai model STEM yang dapat dikembangkan dalam konteks Indonesia, mulai dari model ketahanan banjir perkotaan, pengendalian demam berdarah, optimalisasi energi kampus, hingga sistem transportasi cerdas di Surabaya. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep-konsep STEM, tetapi juga belajar menggunakan STEM untuk merancang solusi bagi masyarakat.
Selain itu, ia mengajak perguruan tinggi untuk memanfaatkan Indonesia sebagai living laboratory bagi pembelajaran sains. Keanekaragaman hayati, dinamika perkotaan, keragaman budaya, dan tantangan lingkungan yang dimiliki Indonesia dapat menjadi sumber belajar yang kaya untuk mengembangkan pembelajaran berbasis riset dan pemodelan matematika. Bahkan, konsep ethnomathematics dinilai memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan kearifan lokal dengan inovasi ilmiah modern.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi. Mahasiswa dan dosen aktif mengajukan pertanyaan terkait implementasi mathematical modelling dalam pendidikan sains, integrasi kecerdasan buatan dalam pembelajaran, serta peluang pengembangan riset interdisipliner yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional.
Pelaksanaan General Lecture 2 ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pendidikan dan pembelajaran berbasis pemecahan masalah, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi berbasis riset interdisipliner, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kolaborasi akademik internasional. Kegiatan ini juga sejalan dengan upaya UNESA dalam meningkatkan kontribusi terhadap Times Higher Education (THE) Impact Rankings melalui pendidikan berkualitas, inovasi, dan kemitraan global.

Melalui kegiatan Visiting Top Professor 2026, FMIPA UNESA terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem akademik internasional yang kolaboratif, inovatif, dan berorientasi pada solusi untuk menjawab berbagai tantangan global di masa depan.
-MNRJ-
