General Lecture 3 VTP FMIPA UNESA 2026: Prof. Ebenezer Bonyah Soroti Peran Mathematical Modelling dalam Mengembangkan Critical dan Creative Thinking

Views: 33

Surabaya β€” Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menyelenggarakan sesi General Lecture 3 dalam rangkaian Visiting Top Professor (VTP) FMIPA UNESA 2026 pada Rabu, 20 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Prof. Slamet Dajono FMIPA UNESA ini menghadirkan Prof. Ebenezer Bonyah, profesor matematika dari Akenten Appiah-Menka University of Skills Training and Entrepreneurial Development (AAMUSTED), Ghana, yang juga masuk dalam daftar Top 2% World Scientists.

Pada sesi kuliah umum kali ini, Prof. Bonyah membawakan materi bertajuk β€œMathematical Modelling in Education: Enhancing Critical and Creative Thinking”. Di hadapan dosen dan mahasiswa lintas program studi, ia menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis dan kreatif merupakan kompetensi esensial yang harus dimiliki generasi masa depan untuk menghadapi berbagai tantangan global di era kecerdasan buatan, perubahan iklim, big data, dan transformasi digital.

Menurut Prof. Bonyah, sistem pendidikan abad ke-21 perlu bertransformasi dari pembelajaran yang berfokus pada hafalan menuju pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk menganalisis permasalahan, mengevaluasi informasi, menginterpretasikan data, serta menghasilkan solusi inovatif berbasis bukti ilmiah. Dalam konteks tersebut, mathematical modelling menjadi pendekatan yang sangat relevan karena memungkinkan mahasiswa menghubungkan konsep akademik dengan fenomena nyata yang terjadi di masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa mathematical modelling merupakan proses ilmiah untuk menerjemahkan realitas ke dalam bahasa matematika guna memahami, memprediksi, dan menghasilkan inovasi. Melalui tahapan observasi, penyusunan asumsi, representasi matematis, simulasi, analisis, interpretasi, hingga pengambilan keputusan, mahasiswa dilatih untuk berpikir secara sistematis dan berbasis data.

Dalam pemaparannya, Prof. Bonyah menunjukkan bahwa mathematical modelling berada di jantung pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya mempelajari konsep-konsep sains dan matematika, tetapi juga mengintegrasikan teknologi dan rekayasa untuk menyelesaikan permasalahan dunia nyata.

Ia mencontohkan berbagai penerapan pemodelan matematika dalam bidang kesehatan, lingkungan, teknologi, dan rekayasa. Salah satunya adalah pemodelan penyebaran penyakit menular yang mengintegrasikan biologi, matematika, teknologi visualisasi data, dan kebijakan kesehatan masyarakat. Selain itu, pemodelan juga dapat digunakan untuk memprediksi perubahan iklim, mengoptimalkan sistem transportasi perkotaan, hingga merancang bangunan tahan gempa yang lebih aman dan efisien.

Prof. Bonyah juga menyoroti pentingnya integrasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam pendidikan STEM. Menurutnya, AI memiliki potensi besar untuk mendukung pembelajaran dan analisis data, namun tetap memerlukan fondasi matematika yang kuat agar mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami logika dan proses ilmiah di balik teknologi tersebut.

Dalam konteks Indonesia, Prof. Bonyah mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan berbagai permasalahan lokal sebagai sumber pembelajaran dan penelitian. Beberapa contoh yang disampaikan antara lain pemodelan banjir, kemacetan lalu lintas di Surabaya, pengelolaan perikanan, pertumbuhan penduduk perkotaan, hingga adaptasi perubahan iklim. Ia juga menekankan pentingnya mengintegrasikan ethnomathematics melalui kajian pola batik, arsitektur tradisional, dan sistem budaya lokal sebagai bagian dari inovasi pendidikan yang berakar pada kearifan lokal.

Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam kuliah umum tersebut adalah bahwa pembelajaran masa depan harus mampu membawa mahasiswa menuju level berpikir tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills/HOTS). Melalui mathematical modelling, mahasiswa didorong untuk bergerak dari sekadar memahami konsep menuju kemampuan menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan solusi baru terhadap berbagai persoalan yang kompleks.

Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Berbagai pertanyaan diajukan terkait implementasi mathematical modelling dalam pembelajaran, integrasi AI dalam pendidikan, pengembangan keterampilan abad ke-21, serta peluang riset STEM yang berdampak bagi masyarakat.

Pelaksanaan General Lecture 3 ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kualitas pembelajaran dan pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan budaya inovasi berbasis STEM, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi akademik internasional yang mendorong pertukaran pengetahuan dan pengembangan kapasitas pendidikan tinggi.

Melalui kegiatan Visiting Top Professor 2026, FMIPA UNESA terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan berkualitas yang adaptif terhadap perkembangan sains dan teknologi, sekaligus mempersiapkan generasi ilmuwan, pendidik, dan inovator yang mampu berkontribusi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.

-MNRJ-