General Lecture 4 VTP FMIPA UNESA 2026: Prof. Ebenezer Bonyah Tekankan Peran Mathematical Modelling dalam Mendukung Pencapaian SDGs

Views: 33

Surabaya β€” Rangkaian Visiting Top Professor (VTP) FMIPA UNESA 2026 berlanjut dengan pelaksanaan General Lecture 4 pada Rabu, 20 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Prof. Slamet Dajono FMIPA Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini menghadirkan Prof. Ebenezer Bonyah, profesor matematika dari Akenten Appiah-Menka University of Skills Training and Entrepreneurial Development (AAMUSTED), Ghana, yang termasuk dalam daftar Top 2% World Scientists.

Pada sesi kuliah umum penutup tersebut, Prof. Bonyah membawakan materi bertajuk β€œTeaching Science for Sustainability: The Role of Mathematical Modelling in the SDGs”. Melalui materi tersebut, ia mengajak dosen dan mahasiswa untuk melihat bahwa matematika tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis ilmiah, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Dalam paparannya, Prof. Bonyah menjelaskan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai krisis keberlanjutan yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, pencemaran air, ketahanan pangan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga permasalahan perkotaan. Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan secara parsial karena merupakan sistem yang kompleks dan saling terhubung. Oleh sebab itu, pendekatan berbasis mathematical modelling menjadi sangat penting untuk memahami hubungan antarvariabel, memprediksi dampak, dan merancang solusi yang efektif.

Prof. Bonyah menegaskan bahwa matematika memiliki peran penting dalam proses prediksi, optimasi, simulasi, peramalan, dan pengambilan keputusan. Melalui model matematika, berbagai fenomena dunia nyata dapat direpresentasikan secara lebih sederhana sehingga memungkinkan para peneliti dan pembuat kebijakan memahami dinamika sistem yang kompleks.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah pemanfaatan model matematika dalam mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui prediksi hasil panen, optimasi sistem irigasi, analisis kesuburan tanah, dan perencanaan ketahanan pangan. Selain itu, model matematika juga dapat digunakan dalam SDG 6 (Clean Water and Sanitation) untuk memprediksi penyebaran polusi air, memantau kualitas lingkungan perairan, dan mendukung pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Pada bidang lingkungan, Prof. Bonyah menunjukkan bagaimana pemodelan matematika berkontribusi pada SDG 13 (Climate Action) melalui analisis sistem iklim, prediksi perubahan lingkungan, serta pengembangan strategi mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Menurutnya, tantangan lingkungan global membutuhkan kemampuan berpikir sistemik yang didukung oleh data dan simulasi ilmiah yang kuat.

Agar lebih kontekstual, Prof. Bonyah juga mengangkat berbagai contoh kasus yang relevan dengan Indonesia. Salah satunya adalah model matematika untuk pengelolaan banjir perkotaan di Jakarta yang mempertimbangkan faktor curah hujan, kapasitas drainase, ruang terbuka hijau, serta tata kelola lingkungan. Ia menunjukkan bagaimana pendekatan matematis dapat membantu pemerintah dalam merancang kebijakan yang lebih tepat untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan ketahanan kota.

Selain itu, ia membahas model pencemaran udara di Surabaya, optimasi energi surya, pengembangan sistem pembelajaran berkelanjutan, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk manajemen lalu lintas perkotaan yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa mathematical modelling dapat diterapkan secara luas dalam berbagai bidang kehidupan dan pembangunan.

Dalam sesi diskusi, Prof. Bonyah juga menekankan pentingnya pembelajaran sains yang berorientasi pada keberlanjutan (Education for Sustainable Development). Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir sistemik, literasi data, dan keterampilan pemecahan masalah agar mampu berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai tantangan global di masa depan.

Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang diajukan terkait implementasi mathematical modelling dalam pendidikan, lingkungan, teknologi, dan kebijakan publik. Diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan tingginya minat sivitas akademika FMIPA UNESA terhadap pemanfaatan sains dan matematika untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pelaksanaan General Lecture 4 ini secara langsung mendukung berbagai Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Quality Education), SDG 6 (Clean Water and Sanitation), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), SDG 13 (Climate Action), serta SDG 17 (Partnerships for the Goals). Oleh karena itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi FMIPA UNESA dalam mendukung indikator Times Higher Education (THE) Impact Rankings melalui penguatan pendidikan, riset, dan kolaborasi internasional yang berorientasi pada keberlanjutan.

Melalui rangkaian Visiting Top Professor FMIPA UNESA 2026, FMIPA UNESA terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan dan riset yang relevan dengan kebutuhan global, sekaligus mempersiapkan generasi ilmuwan dan pendidik yang mampu mengembangkan solusi berbasis sains untuk mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan.

-MNRJ-