Menyambut Kesunyian: Refleksi Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1497

Views: 1

Surabaya – Hari Raya Nyepi, yang menandai pergantian Tahun Baru Saka, merupakan momen sakral bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri melalui suasana hening dan penuh makna. Pada Tahun Saka 1497, perayaan Nyepi jatuh pada tanggal 29 Maret 2025, bertepatan dengan hari Sabtu.​

Sejarah Singkat Tahun Baru Saka

Tahun Baru Saka memiliki akar sejarah yang panjang, dimulai sejak tahun 78 Masehi. Perayaan ini bermula dari kemenangan suku Saka di India yang berhasil menyatukan berbagai suku setelah periode konflik berkepanjangan. Kemenangan tersebut diperingati sebagai awal penanggalan Saka, yang kemudian menyebar hingga ke Nusantara dan menjadi bagian integral dari tradisi Hindu di Indonesia.

Rangkaian Tradisi Menyambut Nyepi

Perayaan Nyepi tidak hanya berlangsung pada hari H, tetapi melibatkan serangkaian upacara yang dimulai beberapa hari sebelumnya:​

  1. Melasti: Upacara penyucian diri dan alam semesta yang dilakukan di sumber-sumber air suci seperti laut atau danau. Tujuannya adalah membersihkan segala kotoran baik secara fisik maupun spiritual.
  2. Tawur Agung Kesanga: Dilaksanakan sehari sebelum Nyepi, upacara ini bertujuan menyeimbangkan dan menyucikan alam semesta dengan memberikan persembahan kepada Bhuta Kala, simbol energi negatif, agar kembali harmonis.
  3. Nyepi (Catur Brata Penyepian): Pada hari ini, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama selama 24 jam penuh:​ (a) Amati Geni: Tidak menyalakan api atau cahaya, termasuk listrik.; (b) Amati Karya: Tidak bekerja atau melakukan aktivitas fisik.; (c) Amati Lelungan: Tidak bepergian atau keluar rumah; (d) ​Amati Lelanguan: Tidak menikmati hiburan atau kesenangan duniawi; serta (e) Ngembak Geni: Sehari setelah Nyepi, aktivitas kembali normal. Umat Hindu saling berkunjung untuk mempererat tali silaturahmi dan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih.

Makna Mendalam di Balik Kesunyian

Nyepi bukan sekadar hari tanpa aktivitas, melainkan waktu untuk merenung, mengevaluasi diri, dan memperbaiki kualitas spiritual. Kesunyian yang dijalani mencerminkan upaya mencapai keseimbangan antara manusia dan alam, serta memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta. Dalam konteks modern, nilai-nilai yang terkandung dalam Nyepi relevan untuk mengingatkan kita akan pentingnya introspeksi dan harmoni dalam kehidupan.