Views: 104
Beberapa hari lalu, dunia memperingati Hari Wayang Dunia — sebuah momentum untuk mengenang dan memaknai warisan budaya Nusantara yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan.
Wayang bukan sekadar pertunjukan tradisional. Ia adalah cermin filosofi hidup, sistem berpikir, dan bahkan refleksi atas hukum-hukum alam. Jika diamati dengan kacamata ilmiah, ternyata di balik gerak wayang yang lentur dan kisahnya yang penuh makna, tersimpan prinsip-prinsip Fisika klasik yang diajarkan oleh Sir Isaac Newton.
Gerak dan Keseimbangan dalam Dunia Wayang
Dalam setiap pagelaran wayang, dalang memainkan tokoh-tokoh kulit dengan tangan kanan dan kiri, menghasilkan gerakan yang tampak hidup di layar kelir. Gerak ini menggambarkan bagaimana setiap benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan kecuali mendapat gaya dari luar. Inilah esensi Hukum I Newton (Hukum Inersia).
Ketika dalang tidak menggerakkan wayang, tokoh itu tetap diam — menunjukkan keseimbangan antara gaya dan keadaan. Namun begitu tangan dalang memberi gaya, wayang bergerak, berubah posisi, bahkan menabrak tokoh lain. Gerakan itu adalah manifestasi dari prinsip bahwa gaya menyebabkan percepatan.

Kekuatan dan Perubahan: Hukum II Newton
Hukum II Newton berbunyi F = m × a — gaya sama dengan massa dikalikan percepatan.
Pada wayang, dalang harus memberi gaya yang cukup agar wayang dapat bergerak lincah, tetapi tetap terkontrol.
Wayang yang lebih besar (massa lebih besar) memerlukan tenaga lebih kuat agar bergerak dengan percepatan yang sama dibanding wayang kecil. Di sinilah letak seni sekaligus sains dalam pergelaran: keseimbangan antara tenaga (gaya) dan keindahan gerak (percepatan).
Prinsip ini bisa dianalogikan dalam kehidupan: semakin besar tanggung jawab yang dipikul seseorang, semakin besar pula tenaga dan keteguhan yang harus ia keluarkan untuk bergerak menuju tujuan. Fisika dan filosofi berpadu dalam gerak tangan dalang.

Aksi dan Reaksi dalam Harmoni
Tidak ada gerak yang berdiri sendiri. Setiap gaya yang diberikan akan menimbulkan gaya reaksi yang sama besar dan berlawanan arah — Hukum III Newton.
Dalam pertunjukan wayang, ketika dua tokoh beradu senjata atau saling menangkis, mereka tampak seimbang: dorongan satu menghasilkan reaksi dari yang lain. Keduanya menggambarkan keseimbangan alam semesta, di mana setiap tindakan memiliki konsekuensi. Dalam filosofi Jawa, ini sejalan dengan prinsip sangkan paraning dumadi — bahwa semua perbuatan manusia akan kembali kepada pelakunya.

Antara Hukum Alam dan Hukum Kehidupan
Newton menemukan hukum gerak untuk menjelaskan alam fisik, tetapi wayang telah lama mengajarkan hukum kehidupan. Gerak para tokoh di panggung bayangan mencerminkan keteraturan kosmos: bahwa dunia diatur oleh hukum-hukum tertentu — baik hukum alam maupun moral. Dalang, sebagai penggerak wayang, bisa dipandang sebagai simbol Tuhan yang mengatur keseimbangan alam semesta. Sementara wayang-wayang adalah representasi manusia dan benda-benda alam yang tunduk pada hukum-Nya.
Wayang sebagai Media Pembelajaran Sains Kontekstual
Dalam pendidikan sains modern, mengaitkan konsep Fisika dengan budaya lokal seperti wayang adalah strategi efektif untuk membangun pembelajaran kontekstual (contextual learning). Mahasiswa dan siswa dapat belajar tentang gaya, percepatan, dan momentum bukan hanya lewat rumus, tetapi melalui analogi budaya yang mereka kenal sejak kecil. Dengan demikian, sains menjadi lebih dekat, bermakna, dan berakar pada identitas bangsa.
Wayang dan Fisika, meski berasal dari dua ranah berbeda — budaya dan sains — ternyata saling menyapa dalam bahasa universal: keteraturan dan keseimbangan. Hukum Newton menjelaskan alam secara matematis, sedangkan filosofi wayang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Keduanya mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan sejati tidak hanya mencari tahu “bagaimana sesuatu bekerja”, tetapi juga “mengapa segala sesuatu ada dan saling terhubung.”
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA)
Sumber foto: Dokumentasi Pagelaran Wayang Kulit “Abimanyu Pinayungan” di Kelurahan Lidah Wetan pada 5 November 2025 (Humas Unesa)
