Mahasiswa Biologi Meneliti Potensi Tumbuhan Buta-buta sebagai Biopestisida

Salah satu fokus utama dalam upaya peningkatan hasil pertanian adalah pengendalian hama, salah satunya adalah ulat grayak. Ulat grayak merupakan larva dari ngengat Spodoptera litura. Hama ini umumnya menyerang tanaman padi, jagung, dan berbagai jenis sayuran sehingga menimbulkan kerusakan daun yang cukup parah.

 

Pada umumnya petani mengggunakan pestisida kimiawi untuk membasmi hama karena umumnya dapat membunuh hama secara cepat. Namun, penggunaan pestisida kimiawi juga memberikan dampak negatif pada lingkungan. Selain itu, hama juga cenderung menjadi resisten. Berawal dari kondisi ini, tim Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta dari Jurusan Biologi berupaya untuk mencari alternatif. Rahmawati (Pendidikan Biologi 2014), Fajar Septyana (Pendidikan Biologi 2014), Mahesa Ahmad (Pendidikan Biologi 2014), dan Lilis Suryandari (Biologi, 2014) berinisiatif untuk membuat biopestisida dari filtrat tumbuhan buta-buta (Excoecaria agallocha).

 

Bahan yang digunakan adalah daun tumbuhan buta-buta yang dapat dijumpai di kawasan mangrove. “Kami mencoba membuat biopestisida dengan menggunakan filtrat daun agar kelak petani dapat mengaplikasikannya secara mudah”, papar Rahmawati, ketua Tim. Hasil penelitian mahasiswa yang dibimbing oleh Reni Ambarwati, S.Si, M.Sc. ini menunjukkan bahwa filtrat daun tumbuhan buta-buta mengandung dapat menyebabkan mortalitas ulat grayak sehingga berpotensi sebagai biopestisida.

 

 

 

 

 

Related posts



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *