Refleksi Hari Guru Nasional 2025: Guru, Lentera Ilmu di Era Perubahan

Views: 42

Setiap tanggal 25 November, bangsa Indonesia merayakan Hari Guru Nasional—sebuah penghormatan untuk para pendidik yang telah menyalakan cahaya ilmu dari generasi ke generasi. Namun, peringatan tahun 2025 ini terasa berbeda. Kita hidup di era percepatan teknologi, kecerdasan buatan, globalisasi, dan perubahan sosial yang begitu cepat. Di tengah derasnya informasi, guru bukan lagi sekadar sumber pengetahuan, tetapi menjadi penuntun kebijaksanaan.

Guru di Era Kecerdasan Artifisial

Kini, informasi bisa diakses dalam hitungan detik. AI mampu menjawab soal, menyusun esai, bahkan membantu simulasi pembelajaran. Lantas, apakah peran guru tergantikan?

Tidak. Justru semakin penting.

Guru adalah jembatan antara pengetahuan dan nilai kemanusiaan. AI dapat memberikan jawaban, tetapi guru mengajarkan bagaimana bertanya, bagaimana berpikir kritis, dan bagaimana berperilaku bijak. Guru menuntun siswa bukan hanya menjadi pintar, tetapi juga menjadi manusia yang beretika, berempati, dan bertanggung jawab.

Makna Profesi Guru Hari Ini

Di tengah tantangan pendidikan yang kompleks—kesenjangan akses, perubahan kurikulum, literasi digital, kesehatan mental siswa—guru hadir sebagai:

Fasilitator pembelajaran, bukan sekadar penyampai materi.
Mentor karakter dan akhlak di tengah krisis moral global.
Agen perubahan sosial, terutama di daerah-daerah yang minim fasilitas.
Role model ketangguhan, ketika pendidikan diuji oleh pandemi, disrupsi teknologi, dan dinamika zaman.

Guru: Pahlawan yang Tetap Belajar

Hari Guru Nasional 2025 mengingatkan kita bahwa menjadi guru berarti terus tumbuh. Banyak guru kini belajar teknologi pembelajaran digital, laboratorium virtual, project-based learning, sampai literasi AI. Mereka hadir di kelas bukan untuk merasa paling tahu, tetapi paling bersedia belajar. Guru sejati bukan hanya yang mengajar, tetapi yang membuka jalan agar murid melampaui dirinya.

Pengabdian yang Tak Selalu Terlihat

Seringkali kerja guru berjalan diam-diam:

  • Lembur menyusun RPP dan asesmen,
  • Menenangkan siswa yang kehilangan arah,
  • Mencari metode baru agar kelas tidak membosankan,
  • Mengorbankan waktu pribadi demi anak didik.

Mungkin tidak masuk berita. Tidak mendapat penghargaan. Tetapi menjadi jejak kebaikan yang akan hidup di hati murid-muridnya kelak.

Refleksi untuk Kita Semua

Hari Guru bukan hanya milik guru—tetapi milik bangsa.

Mari kita renungkan:

  1. Apakah kita sudah menghargai guru sebagaimana mestinya?
  2. Apakah kebijakan pendidikan telah memuliakan profesi guru?
  3. Apakah kita—sebagai pendidik, orang tua, atau masyarakat—telah menjadi mitra bagi guru?

Karena keberhasilan pendidikan bukan hanya hasil kerja guru, tetapi ekosistem yang mendukungnya.

Harapan untuk Masa Depan

Di masa depan, kita membayangkan sekolah sebagai ruang kolaborasi, kreativitas, empati, dan kepedulian terhadap bumi dan sesama. Guru menjadi navigator yang mengarahkan generasi muda untuk berpikir kritis, menyelesaikan masalah, berkolaborasi, menjaga lingkungan, dan tetap berpegang pada nilai-nilai religius dan kemanusiaan. Teknologi boleh maju, tetapi masa depan tetap ditentukan oleh manusia yang bijaksana. Dan kebijaksanaan itu dimulai dari guru.

Penutup

Hari Guru Nasional 2025 adalah ajakan untuk berterima kasih:

Terima kasih untuk setiap ilmu yang ditanamkan,
setiap kesabaran yang diberikan,
dan setiap mimpi yang diselamatkan.

Karena di balik setiap dokter, ilmuwan, pemimpin, dan inovator—ada seorang guru yang percaya pada seorang anak ketika dunia belum melakukannya.

Selamat Hari Guru Nasional.
Untuk semua guru di mana pun berada—termasuk guru kehidupan: orang tua, pembimbing, dan siapa pun yang pernah menuntun langkah kita.

Teruslah menjadi lentera.
Karena satu cahaya dapat menyalakan banyak masa depan.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)