Views: 62
Setiap 28 November, Indonesia memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI)—sebuah momentum nasional untuk mengingatkan pentingnya menjaga Bumi melalui tindakan sederhana namun berdampak besar: menanam pohon. Peringatan ini ditetapkan oleh pemerintah untuk mendorong masyarakat melakukan aksi penghijauan secara masif sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan dan mitigasi bencana.
Tahun 2025, peringatan HMPI berlangsung dalam konteks krisis ekologis yang semakin terasa: banjir bandang di Asia Tenggara, kekeringan, tanah longsor, hingga kualitas udara yang memburuk di berbagai kota. Tidak heran jika pemerintah melalui berbagai lembaga, termasuk Kementerian Kehutanan, kembali mencanangkan penanaman pohon serentak di 31 provinsi sebagai langkah pemulihan hutan dan lingkungan.
Namun HMPI tidak hanya tentang menanam pohon. Ia adalah seruan moral, ilmiah, dan edukatif tentang hubungan manusia dengan alam.
Menanam Pohon: Investasi Ekologis yang Tidak Bisa Ditawar
Berbagai kajian lingkungan menunjukkan bahwa pohon adalah infrastruktur alam yang paling murah namun paling efektif untuk:
- Menyerap karbon dan menurunkan dampak perubahan iklim
- Menahan laju erosi dan mengurangi risiko tanah longsor
- Menjaga siklus air dan mengurangi potensi banjir
- Meningkatkan kualitas udara dengan menyerap polutan
- Menjadi habitat ribuan spesies flora dan fauna
Tidak heran jika HMPI 2025 kembali menegaskan pentingnya mengembalikan tutupan hutan, terutama di daerah-daerah rawan bencana.
Dari Sains Kehutanan hingga Fisika Atmosfer: Pohon dalam Perspektif MIPA
HMPI dapat menjadi pintu masuk pembelajaran lintas bidang MIPA:
Fisika & Atmosfer
- Tajuk pohon mengurangi intensitas radiasi matahari dapat membantu menurunkan suhu permukaan bumi.
- Interaksi pohon dan angin mengurangi kecepatan turbulensi permukaan sehingga berperan dalam pengendalian iklim mikro.
- Evapotranspirasi menurunkan suhu dan meningkatkan kelembapan alami.
Kimia Lingkungan
- Daun pohon menyerap gas-gas berbahaya seperti CO₂, SO₂, NO₂, dan VOC.
- Tanaman dapat bertindak sebagai phytoremediator, menyerap logam berat dalam tanah.
Biologi & Ekologi
- Pohon adalah fondasi ekosistem: produsen primer, penyimpan karbon, dan penyedia habitat.
- Kesehatan hutan menentukan kesehatan keanekaragaman hayati.
Matematika & Pemodelan
- Model pertumbuhan hutan, laju serapan karbon, dan prediksi dampak deforestasi semuanya menggunakan matematika, statistika, dan komputasi.
Dengan demikian, menanam pohon bukan hanya aksi simbolik, tetapi intervensi ilmiah yang memiliki dasar ekologi kuat.
Pendidikan Perubahan Iklim: Momentum untuk Kurikulum Hijau
HMPI 2025 menegaskan betapa pentingnya pendidikan untuk membangun literasi iklim sejak dini, mengajarkan siklus air, banjir, dan mitigasi bencana berbasis sains, mengajak peserta didik melakukan aksi nyata seperti school greening, menghubungkan sains, agama, dan etika ekologis (eco-religious values).
Di sinilah model-model pembelajaran inovatif seperti SCEL (Scientific Creativity Eco-Religious Learning) menjadi relevan: menghubungkan sains, kreativitas, dan nilai moral untuk membentuk generasi yang peduli bumi.
Menanam Pohon sebagai Strategi Mitigasi Bencana Hidrometeorologi
Tragedi banjir dan longsor Asia Tenggara akhir tahun 2025 menunjukkan bahwa: Kerusakan lingkungan adalah akar dari banyak bencana. Penanaman pohon terarah dapat menguatkan struktur tanah di daerah perbukitan, meningkatkan kapasitas tanah menyerap air hujan, mengurangi limpasan permukaan yang memicu banjir, dan membentuk buffer alami di daerah aliran sungai. HMPI menjadi momentum mendorong sekolah, perguruan tinggi, dan komunitas melakukan pemetaan wilayah rawan dan aksi penghijauan berbasis ilmiah.
Dari Kampus untuk Bumi: Peran FMIPA UNESA
Sebagai fakultas yang mempelajari sains, FMIPA memiliki posisi strategis dalam gerakan hijau:
- Riset lingkungan dan perubahan iklim
- Pengembangan teknologi pemantauan melalui sensor, drone, dan citra satelit
- Program kampus hijau (green campus)
- Pengabdian masyarakat melalui edukasi ekologis
- Kolaborasi lintas disiplin untuk restorasi lingkungan
Mahasiswa MIPA—dengan kemampuan analitis, riset, dan kepekaan ilmiah—dapat menjadi agen perubahan dalam kampanye penghijauan.
Cara Merayakan HMPI 2025 yang Bermakna
Menurut berbagai sumber nasional, beberapa cara merayakan HMPI yang dianjurkan meliputi:
- Menanam pohon endemik atau tanaman keras
- Mengadopsi pohon di lingkungan sekolah atau kampus
- Membersihkan area hijau dan membuat kompos
- Membuat proyek ilmiah tentang konservasi
- Mengadakan kampanye literasi hijau di media sosial
- Mengajak murid atau mahasiswa melakukan pengamatan ekosistem sekitar
Kegiatan sederhana ini tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membangun karakter dan empati ekologis.
Penutup: Menanam Pohon adalah Menanam Masa Depan
Hari Menanam Pohon Indonesia 2025 menegaskan bahwa:
“Setiap pohon yang ditanam hari ini adalah harapan bagi generasi yang belum lahir.”
Dengan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, gerakan menanam pohon dapat menjadi salah satu langkah paling efektif dalam memulihkan Bumi, menekan laju perubahan iklim, dan menjaga keberlanjutan ekosistem.
Bagi sivitas akademika FMIPA UNESA, HMPI adalah panggilan untuk menguatkan riset lingkungan, memperluas aksi penghijauan, dan membangun budaya ilmiah yang berpihak pada keberlanjutan.
Menanam pohon bukan hanya tugas kehutanan—tetapi juga tugas kemanusiaan.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, TIm Redaksi FMIPA Unesa)
