Views: 111
FMIPA Universitas Negeri Surabaya โ Tanggal 6 Desember diperingati sebagai Hari Anti Kekerasan Perempuan atau International Day of No Tolerance for Violence Against Women. Peringatan ini merupakan bagian dari rangkaian 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) yang berlangsung setiap tahun pada 25 Novemberโ10 Desember. Momentum ini menegaskan kembali komitmen global untuk menghentikan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender yang masih terjadi di seluruh dunia.
Di Indonesia, laporan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa 1 dari 4 perempuan pernah mengalami kekerasan, baik dalam bentuk fisik, psikologis, seksual, ekonomi, maupun digital. Fenomena ini tidak hanya menjadi isu hukum dan sosial, tetapi juga terkait erat dengan pendekatan ilmiah, data, dan edukasi, yang merupakan bagian penting dari kontribusi FMIPA dalam membangun lingkungan yang aman dan inklusif.
Kekerasan Perempuan dalam Perspektif Sains dan Data
Pendekatan ilmiah memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai akar masalah dan pola kekerasan terhadap perempuan.
1. Data Sains: Melacak Pola Kekerasan
Dengan kemajuan bidang sains data, pola kekerasan dapat dianalisis melalui:
- Data mining laporan kasus tahunan
- Analisis tren lokasi kerentanan
- Identifikasi faktor risiko sosial dan psikologis
- Prediksi wilayah rawan kekerasan berbasis statistik
Pendekatan ini membantu pemerintah dan lembaga pendidikan merumuskan strategi pencegahan yang lebih presisi.
2. Psikologi dan Neurosains Kekerasan
Riset menunjukkan bahwa:
- Kekerasan dapat dipengaruhi oleh stres sosial, faktor lingkungan, dan trauma masa kecil.
- Korban kekerasan mengalami dampak jangka panjang pada fungsi otak seperti memori, emosi, dan regulasi stres.
Sains berperan penting dalam pemulihan trauma melalui intervensi psikologis berbasis bukti (evidence-based).
3. Teknologi dan Kekerasan Berbasis Digital
Era digital memunculkan bentuk kekerasan baru seperti: Cyber harassment, Non-consensual image sharing, serta peretasan dan ancaman daring. Sebagai fakultas yang membina prodi seperti Matematika, Sains Data, dan Kecerdasan Artifisial, FMIPA memiliki kontribusi besar dalam edukasi keamanan digital dan etika teknologi.
Peran Pendidikan Sains dalam Pencegahan Kekerasan
Sebagai lembaga pendidikan, FMIPA Unesa memegang peran strategis dalam membangun budaya akademik yang aman, setara, dan bebas kekerasan.
1. Literasi Sains, Literasi Digital, dan Literasi Gender
Pendidikan sains tidak hanya mengajarkan rumus, tetapi juga:
- Berpikir kritis terhadap isu sosial
- Memahami bias dan diskriminasi dalam data
- Membangun budaya riset yang menghormati martabat manusia
2. Penguatan Kebijakan Kampus Aman
Unesa dikenal sebagai kampus dengan karakter olahraga, seni, dan disabilitas. Prinsip inklusivitas ini selaras dengan kampanye gerakan anti kekerasan melalui:
- Pencegahan kekerasan seksual
- Penguatan unit layanan terpadu
- Edukasi kesehatan mental bagi mahasiswa
3. Kolaborasi Penelitian
Isu kekerasan dapat dianalisis dari berbagai disiplin:
- Matematika & Statistika: modeling tren kasus
- Biologi: dampak fisiologis & hormon akibat trauma
- Kimia: analisis forensik
- Fisika & AI: pengembangan sensor keamanan & identifikasi biometrik
- Sains Data: deteksi cyberbullying otomatis
Dengan demikian, sains menjadi fondasi solusi komprehensif.
Aksi FMIPA: Dari Kampanye Kesadaran hingga Pemanfaatan Teknologi
FMIPA terus mendorong:
- Workshop keamanan digital dan anti kekerasan
- Materi literasi digital dalam pembelajaran
- Publikasi ilmiah populer untuk meningkatkan kesadaran publik
- Pengembangan perangkat AI untuk deteksi kekerasan daring
Langkah-langkah ini merupakan bagian dari komitmen FMIPA mendukung SDGs, khususnya SDG 5: Kesetaraan Gender.
Penutup: Sains untuk Keadilan, Edukasi untuk Kemanusiaan
Peringatan 6 Desember menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah isu kompleks yang memerlukan pendekatan multidisiplin. Melalui pendidikan, riset, dan literasi digital, FMIPA Unesa berkomitmen menjadi bagian dari gerakan global untuk:
โจ Membangun lingkungan akademik yang aman, setara, dan inklusif.
โจ Menghapus kekerasan berbasis gender melalui pendekatan ilmiah.
โจ Menguatkan generasi muda agar peka dan peduli terhadap isu kemanusiaan.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)
