National Day of Listening

national day of listening

Views: 26

Belajar Mendengarkan: Praktik Kemanusiaan, Ilmu Pengetahuan, dan Pendidikan yang Terlupakan

Di tengah dunia yang semakin bising — penuh notifikasi, komentar cepat, dan informasi berlimpah — kemampuan sederhana yang justru paling sulit dilakukan adalah mendengarkan. National Day of Listening, yang pertama kali dicetuskan oleh StoryCorps pada tahun 2008, mengajak kita untuk kembali ke praktik mendengar secara utuh: mendengar cerita, pengalaman, dan suara orang lain sebagai bagian dari upaya memahami kehidupan.

Peringatan ini awalnya lahir sebagai alternatif dari budaya konsumtif “Black Friday,” yang mendorong belanja besar-besaran. Sebagai gantinya, masyarakat diajak untuk menghadiahkan waktu dan perhatian—bukan barang. Di banyak negara, tradisi memperingati National Day of Listening dilakukan pada hari Jumat setelah Thanksgiving, tetapi esensinya jauh melampaui kalender: ia mengajak kita merenungkan pentingnya mendengarkan dalam kehidupan sosial, keluarga, dan pendidikan.

Mengapa Mendengarkan Itu Penting? Sebuah Keterampilan yang Mulai Hilang

Di era digital, paradoks besar muncul: komunikasi semakin cepat, tetapi pemahaman semakin dangkal. Kita membaca lebih banyak, menulis lebih banyak, namun mendengarkan semakin sedikit. Padahal, mendengarkan merupakan proses membentuk empati, menjembatani konflik, mempererat hubungan manusia, mengurangi salah paham, serta menguatkan psikologis, baik bagi pendengar maupun pembicara. Dalam budaya akademik, mendengarkan adalah inti dari proses belajar. Tanpa kemampuan ini, ilmu yang rumit pun kehilangan makna.

Perspektif MIPA: Mendengarkan Sebagai Metode Ilmiah

Kemampuan mendengarkan bukan hanya nilai moral — tetapi juga teknik ilmiah.

1. Fisika & Observasi Fenomena

Dalam fisika, ilmu dimulai dari mengamati — mendengarkan apa yang “disampaikan” oleh alam melalui data, gelombang, suara, atau gejala fisis lainnya.

2. Biologi & Studi Keanekaragaman

Ahli biologi lapangan tidak sekadar melihat, tetapi mendengar pola suara burung, serangga, atau sinyal ekologis lain sebagai bagian dari riset.

3. Kimia & Reaksi Sistemik

Ilmuwan kimia membaca “respon” zat — sebuah bentuk mendengarkan perilaku molekul.

4. Matematika & Data

Statistisi mendengarkan pola tersembunyi dalam data. Mendengarkan dalam konteks ini berarti memahami apa yang data coba katakan.

Dengan kata lain, sains dimulai dari kemampuan untuk mendengar — bukan telinga, tetapi perhatian penuh terhadap realitas.

Perspektif Pendidikan: Mendengarkan sebagai Inti Humanisasi Belajar

Dalam pendidikan, mendengarkan adalah bentuk penghormatan terhadap siswa, fondasi komunikasi yang sehat, cara memahami latar belakang dan kesulitan belajar, serta metode membangun ruang aman dalam proses pembelajaran. Pendidik yang baik bukan hanya pengajar, tetapi pendengar yang bijak. Mahasiswa pun demikian — banyak kesalahpahaman akademik, konflik tim, maupun kegagalan proyek terjadi bukan karena kurangnya kemampuan, melainkan kurangnya kemampuan untuk mendengar.

National Day of Listening dalam Konteks Indonesia & Kampus

Walaupun tidak menjadi hari besar nasional di Indonesia, esensi National Day of Listening sangat relevan dengan konteks budaya gotong royong, nilai musyawarah, konsep tepo seliro (empati), dan budaya akademik yang menghargai dialog.

Di kampus, peringatan ini dapat menjadi momentum refleksi untuk:

1. Mendengarkan mahasiswa

tentang kesulitan belajar, tekanan akademik, aspirasi, dan harapan.

2. Mendengarkan kolega

dalam kolaborasi riset, beban kerja, atau ide pengembangan program studi.

3. Mendengarkan masyarakat

melalui kegiatan pengabdian, agar riset dan inovasi benar-benar menjawab kebutuhan publik.

4. Mendengarkan diri sendiri

tentang batas kemampuan, keseimbangan hidup, dan kesehatan mental.

Cara Merayakan National Day of Listening di Lingkungan Kampus

Beberapa aktivitas sederhana namun bermakna:

  • Mengalokasikan 10–15 menit untuk mendengar cerita keluarga atau sahabat.
  • Mengadakan “Sesi Cerita” informal di kelas atau kelompok riset.
  • Merekam kisah orang tua, tetangga, atau figur inspiratif di sekitar kita—seperti tradisi asli StoryCorps.
  • Membuat kegiatan refleksi tentang apa yang kita pelajari dari mendengarkan.
  • Melakukan silent walk atau deep listening—praktik mendengar lingkungan dan suara alam.

Semua kegiatan ini tidak membutuhkan uang atau teknologi — hanya kehadiran dan hati yang terbuka.

Penutup: Dunia Membutuhkan Lebih Banyak Pendengar

Di tengah hiruk-pikuk informasi, kecepatan teknologi, dan tekanan produktivitas, kita lupa bahwa manusia bukan hanya perlu didengar — tetapi juga didengarkan.

“Mendengarkan adalah bentuk kasih sayang paling sederhana, tetapi paling jarang diberikan.”

National Day of Listening mengajak kita untuk menghargai suara satu sama lain dan menjadikan mendengarkan sebagai kebiasaan harian — bukan sekadar peringatan tahunan. Untuk kita di FMIPA UNESA, kemampuan mendengarkan bukan hanya keterampilan interpersonal, tetapi fondasi keilmuan, pendidikan, dan kemanusiaan.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)