Siklon Senyar & Banjir Bandang Sumatra 2025: Apa Kata Sains?

siklon senyar

Views: 299

Apa Itu Siklon Tropis Senyar?

Siklon Tropis Senyar resmi terbentuk pada 26 November 2025 sebagai evolusi dari bibit gangguan cuaca 95B di perairan Selat Malaka. Pusat tekanan rendah di pusat siklon dicatat sekitar 998 hPa, dengan angin maksimum ~ 43 knot (~ 80 km/jam). Meskipun pusat siklon berada di laut dan relatif menjauh dari daratan, dampaknya terhadap cuaca di wilayah barat laut Indonesia (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat) sangat besar.


Bagaimana Siklon Bisa Picu Hujan Ekstrem & Bencana di Sumatra?

1. Transportasi Uap Air & Konvergensi Atmosfer

Siklon tropis seperti Senyar mendorong aliran massa udara lembap dari lautan ke daratan. Karena pusat tekanan rendah “menyedot” udara di sekitarnya, udara lembap naik, mendingin, dan membentuk awan konvektif — hasilnya hujan sangat lebat dalam waktu singkat.

2. Perubahan Iklim dan Anomali Lautan Memperparah

Para ahli iklim menunjukkan bahwa suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian selatan pada 2025 mengalami anomali (lebih hangat dari rata-rata). Suhu laut hangat seperti ini meningkatkan penguapan — bahan baku bagi hujan ekstrem. Kondisi seperti ini makin dipengaruhi oleh variabilitas iklim regional/global.

3. Topografi & Aktivitas Manusia — Faktor Pemicu Bencana Sekunder

Saat hujan ekstrem terjadi, wilayah pegunungan atau daerah dengan bukaan hutan/deforestasi, lereng terjal, atau drainase buruk sangat rentan longsor dan banjir bandang. Kerusakan lingkungan — seperti deforestasi, tata guna lahan tidak ramah — memperbesar dampak bencana.


Dampak & Fakta: Seberapa Besar Kerusakannya?

Menurut data resmi, bencana akibat Siklon Senyar — banjir, longsor, banjir bandang — telah menewaskan ratusan orang dan mempengaruhi jutaan di Sumatra. Infrastruktur rusak parah: ribuan rumah, fasilitas publik, jembatan, dan jalan terendam atau hilang. Bencana ini bukan semata–mata “kejadian alam” — tetapi juga cerminan rentannya lingkungan dan tata kelola ruang; hal ini menghadirkan urgensi besar bagi mitigasi berbasis ilmiah dan kebijakan lingkungan.


🎓 Mengapa Ini Relevan untuk Komunitas FMIPA?

Sebagai fakultas ilmu dasar dan terapan, FMIPA Unesa memiliki tanggung jawab intelektual untuk:

  • Mengkaji fenomena atmosfer & iklim — seperti dinamika siklon tropis, interaksi laut-atmosfer, dan pengaruh perubahan iklim — dalam riset dan pembelajaran.
  • Mengembangkan solusi multidisipliner: dari fisika atmosfer, matematika pemodelan cuaca, biologi lingkungan, hingga kebijakan konservasi dan mitigasi risiko bencana.
  • Mendorong literasi sains di masyarakat — membantu publik memahami bahwa bencana seperti banjir bandang berkaitan erat dengan siklon tropis, iklim, dan perilaku manusia terhadap lingkungan.

Pelajaran & Rekomendasi ke Depan

  1. Pemantauan & Peringatan Dini — Lembaga seperti BMKG perlu terus memantau kondisi laut & atmosfer, terutama di jalur pembentukan siklon tropis seperti Selat Malaka / Samudra Hindia. Masyarakat pun perlu melek info cuaca & potensi bencana.
  2. Pengelolaan Lingkungan & Tata Ruang Berkelanjutan — Reboisasi, konservasi hutan, pengelolaan lingkungan dan pemukiman yang memperhatikan risiko topografi perlu digalakkan agar dampak hujan ekstrem tidak berujung bencana besar.
  3. Riset & Edukasi — Kampus seperti FMIPA bisa memimpin riset perubahan iklim, dinamika siklon, mitigasi bencana, dan melibatkan mahasiswa dalam kampanye literasi sains & lingkungan.
  4. Kolaborasi Multistakeholder — Pemerintah, akademisi, masyarakat, dan organisasi lingkungan harus bekerja sama membangun sistem ketangguhan bencana dan adaptasi iklim.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)