Views: 44
Surabaya β Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Surabaya kembali menghadirkan atmosfer akademik internasional melalui pelaksanaan General Lecture 1 dalam rangkaian Visiting Top Professor (VTP) FMIPA UNESA 2026 pada Senin, 18 Mei 2026 di Auditorium Prof. Slamet Dajono FMIPA UNESA.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ebenezer Bonyah, profesor matematika dari Akenten Appiah-Menka University of Skills Training and Entrepreneurial Development (AAMUSTED), Ghana, yang juga dikenal sebagai salah satu ilmuwan dalam daftar Top 2% World Scientists. Kuliah umum tersebut diikuti oleh dosen, mahasiswa, pimpinan fakultas, serta sivitas akademika lintas program studi di lingkungan FMIPA UNESA.

Mengusung tema βBridging Science and Education through Mathematical Modelling for Sustainable Development,β Prof. Bonyah menekankan bahwa mathematical modelling tidak lagi sekadar menjadi bagian dari kajian matematika teoretis, tetapi telah berkembang menjadi pendekatan ilmiah penting dalam memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan global.

Dalam paparannya, Prof. Bonyah menjelaskan bahwa dunia saat ini dihadapkan pada sistem yang semakin kompleks, mulai dari penyebaran penyakit, perubahan iklim, transportasi, pendidikan, hingga dinamika sosial masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan melakukan pemodelan matematis menjadi keterampilan penting dalam menghasilkan solusi berbasis data dan prediksi ilmiah.

βKnowledge without application is archival. Knowledge with modelling becomes transformational,β ungkap Prof. Bonyah dalam sesi kuliah umumnya.
Ia juga menjelaskan bahwa mathematical modelling berperan sebagai jembatan antara sains, pendidikan, dan kebijakan publik karena mampu membantu proses analisis, prediksi, hingga pengambilan keputusan secara lebih terukur dan sistematis.

Melalui berbagai contoh kontekstual, Prof. Bonyah menunjukkan bagaimana model matematika dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, seperti pemodelan penyebaran demam berdarah (dengue fever transmission model), dinamika kemacetan lalu lintas, kesulitan belajar matematika, integrasi teknologi dalam pendidikan, hingga model pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
Menariknya, beberapa contoh pemodelan juga dikaitkan dengan konteks Indonesia, seperti pola batik, erosi pantai, dinamika kawasan wisata, hingga aktivitas gunung berapi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa matematika dapat dikembangkan secara kontekstual dan relevan dengan budaya serta tantangan lokal masyarakat.
Dalam sesi kuliah umum tersebut, Prof. Bonyah turut menyoroti pentingnya peran mathematical modelling dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Menurutnya, pembangunan berkelanjutan membutuhkan pendekatan ilmiah berbasis data, analisis, dan prediksi yang kuat.
Pada SDG 3 (Good Health and Well-being), pemodelan matematika dapat membantu memahami dinamika penyebaran penyakit dan efektivitas intervensi kesehatan. Sementara pada SDG 4 (Quality Education), pemodelan digunakan untuk mengevaluasi efektivitas sistem pendidikan, pembelajaran, dan pengembangan kurikulum yang lebih adaptif dan berkeadilan.
Selain itu, Prof. Bonyah juga menyinggung kontribusi matematika dalam SDG 13 (Climate Action) melalui prediksi perubahan iklim, mitigasi bencana, dan analisis lingkungan berbasis data. Menurutnya, pendidikan sains di era modern harus mampu membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir sistemik dan pemodelan untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Bonyah juga mengajak perguruan tinggi di kawasan Asia dan Afrika untuk memperkuat kolaborasi riset internasional dan menjadi produsen solusi ilmiah global. Ia menegaskan bahwa negara-negara berkembang memiliki potensi besar untuk menghasilkan inovasi berbasis konteks lokal yang relevan secara global.

Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi antara mahasiswa dan dosen selama sesi berlangsung. Berbagai pertanyaan mengenai penerapan pemodelan matematika dalam pendidikan, riset multidisiplin, kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga pengembangan kebijakan publik menjadi bagian dari dialog akademik yang dinamis.

Pelaksanaan General Lecture 1 ini menjadi bagian dari komitmen FMIPA UNESA dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi, pengembangan budaya riset, serta peningkatan kualitas akademik menuju World Class University (WCU). Selain itu, kegiatan ini juga mendukung penguatan indikator Times Higher Education (THE) Impact Rankings melalui kontribusi pada SDGs dan pengembangan kemitraan akademik internasional.
-MNRJ-
