Views: 140
Beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia—bahkan seluruh Asia Tenggara—sering bertanya hal yang sama:
“Kenapa hujan sekarang rasanya makin aneh? Tiba-tiba deras, tiba-tiba berhenti, dan sering sekali ekstrem?”
Pertanyaan itu bukan sekadar perasaan. Para ilmuwan meteorologi, klimatologi, dan dinamika atmosfer telah mengonfirmasi bahwa pola hujan global memang berubah, dan Indonesia berada di titik yang sangat sensitif karena posisinya di antara Samudra Hindia dan Pasifik — dua “mesin iklim” terbesar di dunia.
Artikel ini mengurai penjelasan ilmiahnya, dengan bahasa populer yang mudah dipahami.
Hujan Tidak Lagi Seperti Dulu: Apa yang Berubah?
Selama puluhan tahun, kita mengenal pola musim yang relatif stabil:
- Musim hujan dimulai sekitar Oktober–November,
- Puncaknya Desember–Februari,
- Musim kemarau April–September.
Namun sekarang, hujan bisa datang lebih awal atau lebih terlambat, lebih deras dari biasanya, atau berhenti tiba-tiba meski sebelumnya cuaca cerah. Ini terjadi karena pemanasan global mengganggu keseimbangan sistem iklim.
Suhu Bumi Menghangat → Atmosfer Menyimpan Lebih Banyak Uap Air
Salah satu hukum fisika yang paling relevan dalam memahami hujan ekstrem adalah:
Semakin hangat udara, semakin besar kapasitasnya menyimpan uap air.
(Kapasitasnya meningkat sekitar 7% setiap kenaikan 1°C.)
Artinya:
- lebih banyak uap air terkumpul,
- lebih banyak energi tersimpan di atmosfer,
- ketika kondisinya “pecah”, hujan turun sangat deras, jauh lebih intens dari biasanya.
Itulah sebabnya kini kita lebih sering melihat hujan lebat dalam durasi singkat, yang memicu banjir kilat dan genangan.
3. Laut Menghangat → Penguapan Meningkat → Awan Konvektif Melonjak
Indonesia berada pada wilayah kelautan tropis yang sangat aktif secara termodinamik. Ketika suhu permukaan laut naik, maka penguapan meningkat dramatis, pembentukan awan cumulonimbus (awan badai) menjadi lebih cepat, intensitas hujan meningkat, serta risiko petir dan angin kencang meningkat pula. Inilah alasan mengapa akhir-akhir ini menjadi sering terjadi badai lokal, hujan mendadak, puting beliung, dan juga petir ekstrem,
Pengaruh Fenomena Iklim Global: El Niño, La Niña, dan IOD
Ketika fenomena seperti El Niño (mengurangi hujan), La Niña (meningkatkan hujan), dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif/negatif berinteraksi dengan pemanasan global, dampaknya menjadi lebih kuat dari biasanya. Contoh: La Niña di era perubahan iklim dapat menghasilkan hujan yang lebih ekstrem dibanding 20–30 tahun lalu karena atmosfer kini jauh lebih kaya uap air.
Urbanisasi dan Hilangnya Daerah Resapan Membuat Dampak Hujan Makin Parah
Masalahnya bukan hanya lebih banyak hujan, tetapi:
- lebih sedikit tanah resapan,
- lebih banyak beton,
- lebih sedikit pepohonan,
- sungai menyempit,
- drainase tidak memadai.
Ketika hujan ekstrem terjadi di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan, air tidak lagi sempat meresap — langsung menggenang dan bergerak cepat. Maka terjadilah banjir kilat, longsor, limpasan permukaan (runoff) tinggi, dan/atau erosi tanah.
Mengapa Hujan Kini Sangat Sulit Diprediksi?
Banyak orang mengira BMKG “salah ramalan”, padahal kenyataannya:
- ramalan cuaca memang semakin sulit karena sistem atmosfer lebih kacau (chaotic),
- perubahan kondisi terjadi lebih cepat,
- variabilitas harian makin tinggi,
- dan fenomena skala kecil (mikro/messo-scale) meningkat.
Hujan ekstrem sekarang bisa dipicu oleh satu garis konvergensi mendadak, pemanasan daratan cepat di siang hari, gangguan lokal seperti sea breeze, dan juga interaksi awan-awan konvektif kecil. Dalam chaos theory, semakin kompleks suatu sistem, semakin sulit diprediksi meski datanya banyak.
Bagaimana Sains MIPA Membantu Memahami dan Menghadapi Hujan Ekstrem?
Ilmu MIPA sangat sentral dalam isu perubahan iklim, di antaranya:
Fisika Atmosfer
- memahami dinamika awan, radiasi, dan turbulensi
- memodelkan curah hujan ekstrem
Matematika dan Komputasi
- membuat model prediksi cuaca
- menjalankan simulasi dengan superkomputer
Kimia Atmosfer
- mempelajari aerosol, polutan, dan inti kondensasi awan (INP/CCN)
Biologi dan Ekologi
- memahami dampak hujan ekstrem terhadap tanah, ekosistem, dan biodiversitas
Dengan riset dan inovasi, ilmuwan dapat membantu pemerintah merancang strategi mitigasi bencana yang berbasis data dan sains.
Penutup: Ketika Hujan Tak Lagi Sama, Kita pun Harus Beradaptasi
Cuaca ekstrem bukan hanya persoalan meteorologi — tetapi persoalan kita semua. Hujan yang tak terduga adalah tanda bahwa bumi berubah, alarm ekologis, dan juga sekaligus undangan untuk beradaptasi lebih bijak. Kita perlu: memperkuat sistem peringatan dini, menata ruang kota lebih ekologis, mendukung riset iklim, meningkatkan literasi cuaca dan bencana, dan mengurangi emisi yang memperparah pemanasan global.
Karena pada akhirnya, perubahan iklim bukan soal masa depan —
perubahan iklim sedang terjadi saat ini, dan hujan adalah salah satu bahasanya.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)
