Views: 267
Dalam setiap pagelaran wayang kulit, selalu ada satu tokoh yang tidak berbicara, tidak bergerak, dan tidak berperan sebagai manusia atau dewa — namun kehadirannya sangat penting: Gunungan. Bentuknya seperti segitiga runcing ke atas, penuh ukiran dedaunan, hewan, dan simbol-simbol alam semesta. Gunungan menjadi lambang pembuka dan penutup kisah — simbol kelahiran, kehidupan, dan kematian. Namun lebih dari itu, Gunungan juga mencerminkan konsep keseimbangan alam yang secara menakjubkan dapat dijelaskan melalui prinsip-prinsip Fisika dan Sains kehidupan.

Gunungan Sebagai Simbol Kosmos dan Keseimbangan
Secara filosofi Jawa, Gunungan menggambarkan makrokosmos (jagad gede) — alam semesta dengan segala komponennya yang saling terhubung. Di bagian bawah terdapat dunia binatang dan tumbuhan, di tengah terdapat manusia dan makhluk halus, sementara di puncaknya terdapat api atau simbol Dewa, yang mewakili kekuatan spiritual tertinggi.
Susunan vertikal ini mengajarkan konsep gradien energi — dari energi rendah di bumi hingga energi tinggi di langit. Dalam Fisika, fenomena ini serupa dengan konsep energi potensial gravitasi, di mana posisi dan ketinggian menentukan tingkat energi suatu benda. Alam, dalam pandangan Jawa maupun ilmiah, selalu bergerak menuju keseimbangan (equilibrium) — tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah.

Simetri dan Pusat Keseimbangan
Bentuk Gunungan yang simetris juga memiliki makna ilmiah. Dalam Fisika, simetri sering dihubungkan dengan stabilitas sistem. Sebuah benda yang simetris memiliki pusat massa (center of mass) yang seimbang, sehingga tidak mudah terjatuh atau goyah. Demikian pula, keseimbangan dalam alam dicapai ketika gaya-gaya yang bekerja saling meniadakan — sebagaimana Hukum I Newton yang menyatakan ΣF = 0 dalam mekanika klasik.
Simetri Gunungan mengajarkan bahwa keseimbangan tidak hanya tentang diam, tetapi tentang kesetaraan gaya yang berlawanan namun saling menahan. Ketika manusia, alam, dan spiritualitas berada pada posisi yang proporsional, terciptalah harmoni kehidupan yang stabil — seperti benda dalam keadaan seimbang.
Gunungan dan Siklus Energi Alam
Gunungan juga melambangkan siklus energi di alam. Dari akar (tanah) naiklah energi ke daun (tumbuhan), lalu ke hewan dan manusia yang memakan hasil bumi, kemudian kembali lagi ke tanah saat semua makhluk mati. Siklus ini identik dengan konservasi energi dalam Fisika: energi tidak pernah hilang, hanya berubah bentuk — dari kimia, menjadi gerak, menjadi panas, lalu kembali ke bumi.
Ketika dalang menancapkan Gunungan di awal pertunjukan, ia sedang menggambarkan awal kehidupan dan keseimbangan energi. Ketika Gunungan ditancapkan di akhir, itu adalah simbol kembali ke asal — bahwa semua sistem tertutup pada akhirnya mencapai kesetimbangan termal, atau dalam bahasa filsafat Jawa, manunggaling kawula lan Gusti.
Keteraturan Alam dan Hukum Kehidupan
Dalam konteks ilmiah, alam bergerak mengikuti hukum-hukum Fisika yang pasti dan teratur. Namun dalam konteks budaya, keteraturan ini dipahami sebagai manifestasi dari kehendak ilahi. Gunungan menjadi jembatan antara keduanya — simbol bahwa keteraturan alam (hukum Newton, kekekalan energi, atau dinamika fluida) sesungguhnya mencerminkan keteraturan ciptaan Tuhan.
Di balik filosofi Jawa yang puitis, tersimpan pandangan ilmiah yang dalam: bahwa keseimbangan ekologis dan moral manusia merupakan bagian dari keseimbangan kosmik. Ketika satu unsur terganggu — hutan ditebang, air tercemar, udara rusak — maka sistem kehilangan kesetimbangan dan menghasilkan ketidakharmonisan.

Gunungan dan Ilmu Pengetahuan Modern
Jika dianalisis dengan sains modern, Gunungan dapat menjadi alat refleksi interdisipliner: Dalam Fisika, ia merepresentasikan keseimbangan gaya dan energi potensial. Dalam Biologi, ia menunjukkan rantai makanan dan siklus kehidupan. Dalam Kimia, ia menggambarkan daur materi dan energi. Dalam Ekologi, ia menegaskan hubungan saling ketergantungan antar makhluk hidup.
Gunungan mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri — semuanya saling terkait membentuk satu sistem alam yang besar, seperti filosofi Jawa tentang jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gede (makrokosmos).
Menjaga Keseimbangan di Era Modern
Dalam dunia modern yang serba cepat, pesan Gunungan tetap relevan: manusia harus hidup seimbang dengan alam dan sesamanya. Kemajuan teknologi dan sains seharusnya tidak merusak keseimbangan itu, melainkan memperkuat harmoni kehidupan. Bagi sivitas akademika FMIPA Unesa, filosofi Gunungan adalah pengingat bahwa ilmu pengetahuan sejati tidak hanya untuk memahami alam, tetapi juga untuk menjaga keseimbangannya.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah – Tim Redaksi FMIPA Unesa)
Sumber foto: Dokumentasi Pagelaran Wayang Kulit “Abimanyu Pinayungan” di Kelurahan Lidah Wetan pada 5 November 2025 (Humas Unesa)
