Views: 87
1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day), sebuah momentum global yang mengajak masyarakat dunia untuk memperkuat kesadaran, solidaritas, edukasi, dan aksi nyata dalam melawan epidemi HIV/AIDS. Pertama kali dideklarasikan pada tahun 1988 oleh WHO dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, hari ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan HIV bukan hanya persoalan medis—tetapi juga masalah kemanusiaan, pendidikan, dan sains.
Tema Hari AIDS Sedunia 2025: “Transformasi Respons Hadapi Disrupsi”
Indonesia mengusung tema “Layanan HIV Berkelanjutan: Transformasi Respons Hadapi Disrupsi”, menyoroti pentingnya sistem layanan kesehatan yang adaptif, inklusif, dan mampu bertahan dalam situasi darurat, seperti pandemi, bencana, maupun ketimpangan akses layanan. (Sumber: Kemenkes RI, Periskop.id, Kontan)
Tema global tahun ini juga menekankan:
- Akses layanan HIV yang setara untuk semua,
- Pengurangan stigma dan diskriminasi,
- Upaya berbasis komunitas untuk menjangkau kelompok rentan,
- Pentingnya inovasi teknologi dan pendidikan untuk pencegahan.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengingatkan bahwa HIV/AIDS masih menjadi ancaman bagi kesehatan publik, terutama di wilayah dengan keterbatasan layanan kesehatan, konflik, dan kemiskinan.
Sains di Balik HIV/AIDS — Apa yang Harus Kita Pahami?
Sebagai fakultas yang mengarusutamakan sains, FMIPA Unesa memandang Hari AIDS Sedunia sebagai momentum penting untuk meningkatkan literasi ilmiah masyarakat.
1. HIV adalah virus, AIDS adalah kondisi klinis
- HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyerang sistem kekebalan, terutama sel CD4.
- AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah tahap lanjut HIV jika tidak ditangani.
Perkembangan medis memungkinkan pengobatan ARV (antiretroviral) menekan viral load hingga undetectable sehingga penularan dapat dicegah.
2. Penularan HIV dapat dijelaskan secara ilmiah
HIV tidak menular lewat sentuhan, pelukan, bersalaman, makanan, atau udara. Virus hanya menular melalui hubungan seksual tanpa proteksi, jarum suntik tidak steril, transfusi darah yang tidak teruji, penularan ibu ke bayi (dapat dicegah dengan layanan kesehatan). Literasi ilmiah seperti ini penting untuk menghapus stigma.
3. Sains terus berkembang: dari vaksin hingga teknologi diagnosis
Penelitian terkini mencakup vaksin HIV berbasis mRNA, terapi gen CRISPR, metode deteksi dini berbasis biosensor, pengembangan ARV generasi baru. FMIPA, melalui bidang biologi, kimia, kesehatan lingkungan, hingga sains data, memiliki banyak ruang kontribusi dalam literatur ilmiah dan riset HIV/AIDS.
Mengapa Hari AIDS Sedunia Relevan untuk Pendidikan Sains?
- Mendorong literasi kesehatan dan pemahaman ilmiah
Mis-informasi tentang HIV masih sangat tinggi. Pendidikan sains berperan penting membangun pemahaman berbasis bukti. - Mendidik empati, anti-stigma, dan inklusivitas
Mahasiswa dan pendidik perlu memahami bahwa HIV bukan hukuman moral, melainkan isu kesehatan masyarakat yang membutuhkan dukungan dan solidaritas. - Menumbuhkan kesadaran preventif
Pengetahuan dasar tentang virus, imunitas, perilaku berisiko, dan proteksi diri adalah bagian dari pendidikan sains yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. - Membuka peluang riset bagi mahasiswa FMIPA
Topik seperti virologi, imunologi, kimia obat, bioinformatika, statistik epidemiologi, hingga pemodelan matematis penyebaran penyakit sangat relevan sebagai tema penelitian dan inovasi.
FMIPA Unesa Mengajak: Lawan Stigma, Sebarkan Edukasi
Hari AIDS Sedunia bukan hanya hari peringatan, tetapi ajakan untuk memahami HIV secara ilmiah, mendukung penyintas, menghapus stigma dan diskriminasi, memperluas literasi kesehatan, meningkatkan akses layanan konseling dan tes HIV, mendukung riset dan inovasi berbasis sains.
FMIPA Unesa percaya bahwa pendidikan, empati, dan pengetahuan ilmiah adalah fondasi penting menuju dunia tanpa AIDS.
diadaptasi dari berbagai sumber terkini.
(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)
