Hari Nusantara 2025: Meneguhkan Indonesia sebagai Negara Maritim dan Tantangan Sains Kelautan

Views: 90

Setiap tanggal 13 Desember, Indonesia memperingati Hari Nusantara sebagai momentum nasional untuk meneguhkan jati diri bangsa sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Pada tahun 2025, peringatan Hari Nusantara kembali menjadi pengingat penting bahwa laut bukan sekadar pemisah antarwilayah, melainkan pemersatu bangsa, sekaligus ruang strategis bagi pembangunan, ilmu pengetahuan, dan keberlanjutan lingkungan.

Bagi sivitas akademika FMIPA Universitas Negeri Surabaya, Hari Nusantara memiliki makna yang erat dengan pengembangan sains kelautan, lingkungan, dan edukasi berbasis keberlanjutan.

Sejarah Hari Nusantara: Berawal dari Deklarasi Djuanda

Hari Nusantara ditetapkan untuk memperingati Deklarasi Djuanda yang dicetuskan pada 13 Desember 1957. Deklarasi ini menegaskan bahwa seluruh perairan di antara dan di sekitar pulau-pulau Indonesia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari wilayah kedaulatan negara.

Deklarasi Djuanda menjadi tonggak penting dalam hukum laut internasional dan kemudian diakui melalui Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982, yang mengukuhkan Indonesia sebagai archipelagic state. Sejak saat itu, konsep Nusantara tidak hanya bermakna geografis, tetapi juga politis, ekologis, dan strategis.

Makna Hari Nusantara di Era Modern

Di tengah dinamika global dan tantangan perubahan iklim, Hari Nusantara memiliki makna yang semakin luas, antara lain:

  • Penguatan kedaulatan maritim dan pengelolaan wilayah laut Indonesia
  • Pelestarian ekosistem laut, seperti terumbu karang, mangrove, dan padang lamun
  • Pemanfaatan sumber daya laut berbasis sains dan teknologi
  • Mitigasi perubahan iklim dan bencana pesisir
  • Penguatan literasi maritim generasi muda

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, garis pantai terpanjang kedua di dunia, serta keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi. Namun, tantangan seperti polusi laut, penangkapan ikan berlebih, dan kenaikan muka air laut menuntut pendekatan ilmiah yang terintegrasi.

Peran Sains dan FMIPA dalam Merawat Nusantara

Sebagai fakultas yang menaungi ilmu dasar dan terapan, FMIPA Unesa memiliki peran strategis dalam mendukung visi Indonesia sebagai negara maritim berkelanjutan. Kontribusi FMIPA antara lain melalui:

  • Riset lingkungan dan kelautan, termasuk kajian kualitas air, ekosistem pesisir, dan perubahan iklim
  • Pendidikan sains kontekstual, yang mengaitkan materi fisika, kimia, dan biologi dengan fenomena kelautan Indonesia
  • Pengembangan literasi lingkungan, khususnya bagi mahasiswa dan masyarakat pesisir
  • Pengabdian kepada masyarakat, seperti edukasi ekosistem laut, konservasi mangrove, dan kampanye pengurangan sampah plastik

Pendekatan sains tidak hanya berfungsi sebagai alat analisis, tetapi juga sebagai dasar pengambilan kebijakan dan pembentukan kesadaran ekologis masyarakat.

Hari Nusantara 2025 dan Tantangan Generasi Muda

Peringatan Hari Nusantara 2025 menjadi momentum refleksi bagi generasi muda untuk memahami bahwa masa depan Indonesia sangat bergantung pada cara bangsa ini mengelola laut dan lingkungannya. Mahasiswa sebagai calon ilmuwan, pendidik, dan pengambil kebijakan memiliki peran penting dalam:

  • mengembangkan inovasi berbasis kelautan,
  • menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan konservasi,
  • serta membangun kesadaran publik tentang pentingnya ekosistem laut.

Penutup

Hari Nusantara bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan pengingat bahwa laut adalah identitas, sumber kehidupan, dan masa depan Indonesia. Melalui pendekatan ilmiah dan pendidikan berkelanjutan, FMIPA Unesa terus berkomitmen mendukung penguatan wawasan maritim dan pelestarian Nusantara.

Selamat Hari Nusantara 2025.
Mari merawat laut Indonesia dengan ilmu pengetahuan, kesadaran lingkungan, dan tanggung jawab bersama.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)