Bagaimana MJO Memicu Hujan Ekstrem di Indonesia?

MJO

Views: 145

Gelombang Atmosfer Raksasa yang Menggerakkan Cuaca Tropis

Jika kita sering mendengar bahwa hujan ekstrem di Indonesia “dipengaruhi MJO”, mungkin muncul pertanyaan: Apa sebenarnya MJO itu? Mengapa keberadaannya bisa membuat hujan di Indonesia mendadak sangat lebat, bahkan sampai menimbulkan banjir ketika kondisi atmosfer tertentu terpenuhi? Jawabannya melibatkan dinamika atmosfer tropis yang sangat menarik — besar, berirama, dan sangat berpengaruh pada kehidupan kita sehari-hari.

MJO Itu Apa? Gelombang Atmosfer yang Bergerak Mengelilingi Bumi

Madden–Julian Oscillation (MJO) adalah fenomena atmosfer skala besar berupa gelombang konveksi (awan & badai) yang bergerak perlahan dari Samudra Hindia menuju Samudra Pasifik.

Keunikan MJO ialah bahwa MJO memiliki ukuran sangat besar (ribuan kilometer), bergerak ke arah timur, memiliki siklus 30–60 hari, serta memengaruhi pola hujan tropis di Asia, Australia, Afrika, dan Amerika Selatan.

Bayangkan MJO seperti “rombongan awan badai raksasa yang melakukan perjalanan keliling dunia secara periodik”. Saat rombongan ini melintasi Indonesia, hujan ekstrem sering terjadi.

Dua Fase Utama MJO: Basah dan Kering

MJO memiliki dua fase besar:

a. Fase Konvektif (Basah / Enhanced Phase)

  • pembentukan awan sangat aktif,
  • curah hujan meningkat,
  • badai petir lebih sering,
  • angin vertikal naik dengan kuat.

b. Fase Supresif (Kering / Suppressed Phase)

  • awan sulit terbentuk,
  • udara turun (subsidence),
  • curah hujan menurun.

Ketika fase basah MJO berada di wilayah Indonesia, potensi hujan lebat meningkat signifikan.

Mengapa MJO Sangat Berpengaruh bagi Indonesia?

Indonesia terletak di pusat wilayah maritim tropis — daerah yang sensitif terhadap perubahan kelembapan dan panas laut. Saat MJO fase basah melintas, maka laut hangat Indonesia mengirimkan uap air dalam jumlah besar, kemudian energi konvektif meningkat, selanjutnya awan cumulonimbus tumbuh sangat cepat, lalu hujan badai mudah terbentuk.

Laut + MJO = Bahan bakar hujan ekstrem. Itulah sebabnya Indonesia disebut “ruang kelas utama” untuk mempelajari MJO oleh banyak ilmuwan atmosfer.

Kombinasi MJO dengan Fenomena Lain Dapat Menyebabkan Hujan Sangat Ekstrem

MJO jarang bekerja sendirian. Dampaknya diperkuat ketika berinteraksi dengan:

a. Monsun Asia–Australia

Jika MJO fase basah muncul saat monsun barat aktif, maka hujan ekstrem berhari-hari akan terjadi.

b. La Niña

La Niña meningkatkan kelembapan wilayah Indonesia menyebabkan MJO datang, sehingga intensitas hujan meningkat dua kali lipat.

c. Gelombang Kelvin dan Rossby

Gelombang atmosfer lain dapat “menemani” MJO dan menghasilkan hujan dalam durasi panjang.

d. Pemanasan Laut (Marine Heatwave)

Jika perairan Indonesia sedang sangat hangat, efek MJO bisa sangat dramatis karena uap air tersedia melimpah.

Contoh Dampak MJO di Indonesia

Ketika MJO kuat melintasi fase maritim Indonesia, biasanya terjadi hujan lebat sepanjang hari, peningkatan badai petir, banjir lokal maupun regional, peningkatan risiko tanah longsor, gangguan transportasi udara karena turbulensi, serta pembentukan awan konvektif besar meski pagi harinya cerah. BMKG dan lembaga iklim global sering mengeluarkan peringatan dini ketika MJO fase basah aktif.

Bagaimana MJO Diprediksi?

MJO dipantau menggunakan:

  • satelit cuaca (awan + curah hujan),
  • data suhu permukaan laut,
  • angin zonal dan meridional,
  • indeks RMM (Real-time Multivariate MJO Index).

Ilmuwan mampu memprediksi keberadaan MJO hingga rentang 10–20 hari ke depan. Namun intensitas hujan lokal tetap sulit diprediksi karena dipengaruhi kondisi regional dan topografi.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ketika laporan BMKG menyebut “MJO fase basah aktif di Indonesia”, maka:

  • daerah rawan banjir harus meningkatkan kesiapsiagaan,
  • masyarakat harus memantau prakiraan cuaca harian,
  • kegiatan luar ruang / pendakian / kelautan perlu berhati-hati,
  • kampus dan sekolah bisa melakukan edukasi mitigasi bencana hydrometeorologi.

MJO bukan bencana — ia fenomena alam. Yang membuatnya berbahaya adalah ketidaksiapan manusia menghadapi dampaknya.

Penutup: MJO adalah Pengingat Bahwa Atmosfer adalah Sistem Hidup

MJO menunjukkan bahwa atmosfer bukan ruang kosong, tetapi sistem energi yang bergerak, berdenyut, dan berinteraksi dengan laut. Bagi Indonesia, memahami MJO bukan hanya pengetahuan ilmiah — tetapi kebutuhan untuk melindungi kehidupan, infrastruktur, dan ketahanan ekologis.

Ketika MJO datang, bukan hanya hujan yang tiba — tetapi pelajaran tentang bagaimana bumi bekerja.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)