El Niño – La Niña bagi Pemula: Mengenal “Pengendali Cuaca” Bumi (Edisi Ilmiah Populer)

el nino dan la nina

Views: 206

Setiap tahun Indonesia mengalami perubahan pola cuaca: kadang kemarau terasa lebih panjang dan kering, sementara di tahun lain hujan turun lebih awal dan lebih lebat. Apa penyebab utamanya? Jawabannya sering kali adalah fenomena global bernama ENSO (El Niño–Southern Oscillation), yang terdiri dari dua fase: El Niño dan La Niña.

Meski kedengarannya rumit, sebenarnya fenomena ini dapat dijelaskan secara sederhana—dan dampaknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apa itu ENSO?

ENSO adalah “sistem osilasi” di Samudra Pasifik bagian tengah–timur yang memengaruhi pola angin, suhu laut, dan curah hujan di seluruh dunia.
Fase utamanya:

1. El Niño → Samudra Pasifik memanas

  • Suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah–timur meningkat >0,5°C di atas normal.
  • Angin pasat (trade winds) melemah.
  • Awan hujan berkumpul di tengah Pasifik.

Efek bagi Indonesia:

  • Musim kemarau lebih kering dan panjang.
  • Risiko kekeringan meningkat.
  • Hujan berkurang drastis.
  • Kebakaran lahan lebih mudah terjadi.

(Contoh nyata: El Niño 1997/1998 dan 2015 termasuk yang paling kuat dalam sejarah.)

2. La Niña → Samudra Pasifik mendingin

  • Suhu permukaan laut lebih dingin dari normal (<–0,5°C).
  • Angin pasat menguat.
  • Awan hujan bergeser ke wilayah barat, termasuk Indonesia.

Efek bagi Indonesia:

  • Curah hujan meningkat jauh di atas normal.
  • Banjir, genangan, dan longsor lebih sering terjadi.
  • Intensitas badai lokal menguat.

(Contoh: La Niña 2010–2012 menyebabkan banyak banjir besar di berbagai daerah.)

Kenapa El Niño–La Niña Penting Bagi Kita?

Karena fenomena ini mengatur ritme musim di Indonesia.

Dampaknya mencakup:

  • Pertanian:
    Tanaman padi lebih rentan puso saat El Niño, dan saat La Niña petani menghadapi risiko gagal panen akibat genangan.
  • Kesehatan:
    Penyakit ISPA meningkat saat musim kering panjang; demam berdarah melonjak saat La Niña.
  • Kelistrikan & Energi:
    Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sangat bergantung pada curah hujan.
  • Perikanan:
    Perubahan suhu laut memengaruhi migrasi ikan.
  • Transportasi & Infrastruktur:
    Banjir dan longsor saat La Niña berdampak pada mobilitas masyarakat.

Sains di Balik ENSO (Versi Ringkas)

ENSO adalah interaksi kompleks antara atmosfer dan samudra, meliputi:

🔹 Sea Surface Temperature (SST)

Indikator utama penentu fase El Niño atau La Niña.

🔹 Trade Winds

Angin pasat timur–barat yang menggerakkan massa air hangat menuju Asia Tenggara.

🔹 Thermocline

Lapisan batas air laut hangat–dingin.

  • Saat El Niño: thermocline turun sehingga laut Indonesia lebih hangat dan menyebabkan hujan berkurang.
  • Saat La Niña: thermocline naik sehingga upwelling kuat dan menyebabkan curah hujan bertambah.

🔹 Walker Circulation

Sirkulasi atmosfer raksasa di Pasifik. Saat El Niño melemah, Indonesia kehilangan pusat penguapan sehingga curah hujan turun.

Bagaimana BMKG Memprediksi ENSO?

BMKG mempredikdi ENSO dengan cara mengamati suhu permukaan laut (SST) melalui satelit, mengukur tekanan atmosfer (Indeks ONI dan SOI), menganalisis pergerakan angin pasat, dan menggunakan model iklim global dan superkomputer. Prediksi ENSO sangat penting bagi perencanaan pertanian, mitigasi bencana, manajemen energi, dan strategi ketahanan pangan nasional.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Fenomena El Niño–La Niña mengajarkan bahwa:

✔ Cuaca lokal dipengaruhi sistem global

Hujan di Surabaya, misalnya, bisa dipengaruhi suhu laut ribuan kilometer jauhnya.

✔ Perubahan iklim memperkuat ekstrem

Global warming membuat El Niño lebih panas dan La Niña lebih basah.

✔ Sains iklim sangat penting bagi generasi muda

Mahasiswa FMIPA — fisika, kimia, biologi, matematika, data science — berperan besar memahami, memodelkan, dan menanggulangi dampaknya.

Kesimpulan

El Niño dan La Niña bukan sekadar istilah dalam berita cuaca. Mereka adalah fenomena besar yang memengaruhi iklim global dan kehidupan sehari-hari. Memahami ENSO membantu kita lebih siap menghadapi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di era perubahan iklim.

Dengan memperkuat literasi iklim dan sains atmosfer, FMIPA Unesa ikut berkontribusi mencetak generasi ilmuwan dan pendidik yang mampu menjawab tantangan masa depan.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)