Banjir Bandang Sumatra 2025: Data Terkini, Analisis Sains, dan Seruan Kepedulian dari FMIPA Unesa

UNESA Peduli Bencana Sumatra

Views: 360

Surabaya, Desember 2025 – Indonesia kembali berduka. Banjir bandang dan longsor berskala besar melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Ribuan rumah hanyut, infrastruktur rusak, dan jutaan warga terdampak. Peristiwa ini menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terparah di Sumatra dalam beberapa dekade terakhir.

Data Terkini Korban dan Dampak Bencana

Berdasarkan data terkini BNPB per awal Desember 2025, bencana banjir dan longsor di Sumatra telah menyebabkan lebih dari 750 orang meninggal dunia, ratusan orang masih hilang, dan ribuan lainnya luka-luka. Korban tersebar di tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Jutaan warga terdampak banjir, baik karena rumah terendam, akses jalan terputus, maupun kehilangan sumber penghidupan. Pemerintah pusat mengerahkan pesawat Hercules, helikopter, dan ribuan personel TNI–Polri untuk membantu evakuasi, distribusi logistik, dan penanganan darurat.

Citra satelit yang dirilis berbagai media memperlihatkan kontras yang mencolok: kawasan yang sebelumnya tampak hijau berubah menjadi hamparan lumpur, air keruh, dan material kayu yang tersapu banjir di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Sains di Balik Banjir Bandang Sumatra: Curah Hujan Ekstrem dan Siklon Senyar

Para pakar atmosfer dari ITB dan lembaga riset lain menjelaskan bahwa bencana ini tidak lepas dari kombinasi faktor cuaca dan dinamika iklim:

  1. Puncak Musim Hujan di Sumatra Utara
    Secara klimatologis, wilayah Sumatra bagian utara memang sedang berada pada puncak musim hujan, dengan distribusi hujan yang bisa memiliki dua puncak dalam setahun. Pada periode kejadian, beberapa stasiun BMKG mencatat curah hujan harian >300 mm, kategori hujan ekstrem.
  2. Adanya Sirkulasi Siklonik dan Siklon Tropis Senyar
    Di sekitar Selat Malaka terbentuk sirkulasi siklonik yang kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar. Sistem bertekanan rendah ini memperkuat awan konvektif dan menarik suplai uap air ke kawasan Aceh–Sumut–Sumbar sehingga hujan ekstrem turun terus-menerus dalam waktu lama.
  3. Topografi Pegunungan dan Lembah Curam
    Wilayah terdampak banyak yang berada di kaki atau lereng pegunungan dengan lembah sempit. Ketika hujan ekstrem turun di daerah hulu DAS, air mengalir deras ke hilir, membawa material batu, kayu, dan tanah yang memicu banjir bandang dan longsor.

Pakar kebumian UGM menambahkan bahwa curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu awal, namun bencana sebesar ini tak lepas dari kondisi permukaan yang sudah rapuh.

Kerusakan Lingkungan, Deforestasi, dan Menurunnya Kapasitas Tampung Wilayah

Analisis geospasial dan kajian lingkungan menunjukkan adanya penurunan tutupan hutan dan perubahan penggunaan lahan yang signifikan di beberapa daerah hulu sungai di Aceh dan Sumatra.

  • Hutan yang hilang mengurangi kemampuan lahan menahan dan menyerap air hujan.
  • Pembangunan di sempadan sungai dan lereng curam meningkatkan risiko limpasan permukaan dan longsor.
  • Sedimentasi sungai dan penyempitan alur air membuat kapasitas sungai menurun sehingga lebih mudah meluap saat hujan ekstrem.

Dengan kata lain, cuaca ekstrem bertemu dengan lingkungan yang sudah rusak – kombinasi yang membuat banjir bandang Sumatra 2025 menjadi begitu dahsyat.

Perspektif FMIPA Unesa: Literasi Bencana dan Tanggung Jawab Sains

Sebagai institusi pendidikan sains, FMIPA Unesa melihat tragedi ini dari dua sisi: sebagai duka dan empati kemanusiaan (sisi dalam), dan sebagai panggilan untuk memperkuat literasi bencana hidrometeorologi di Indonesia (sisi luar).

Beberapa hal yang bisa menjadi fokus pembelajaran:

  • Pemodelan Cuaca dan Iklim
    Mahasiswa fisika atmosfer, matematika, dan sains data dapat berkontribusi lewat pemodelan curah hujan ekstrem, analisis data satelit, hingga sistem peringatan dini berbasis AI.
  • Kajian Hidrologi & Geospasial
    Ilmu geospasial, hidrologi, dan ekologi penting untuk memahami bagaimana perubahan tata guna lahan mengubah pola aliran air dan potensi longsor.
  • Pendidikan Lingkungan untuk Masyarakat
    Program pengabdian kepada masyarakat dapat difokuskan pada edukasi DAS, konservasi hutan, sekolah tangguh bencana, dan pengelolaan ruang yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Doa, Solidaritas, dan Aksi Nyata

FMIPA Unesa menyampaikan duka cita mendalam bagi seluruh keluarga korban banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Selain mengirimkan doa, civitas akademika juga diajak untuk:

  • berpartisipasi dalam penggalangan dana dan logistik,
  • memperkuat riset dan edukasi terkait mitigasi bencana,
  • serta mendorong kebijakan pembangunan yang lebih ramah lingkungan.

Banjir bandang Sumatra 2025 menjadi pengingat keras bahwa sains, kebijakan, dan kepedulian sosial harus berjalan beriringan demi masa depan Indonesia yang lebih tangguh terhadap bencana.

diadaptasi dari berbagai sumber terkini.

(Mukhayyarotin Niswati Rodliyatul Jauhariyah, Tim Redaksi FMIPA Unesa)